
ZATERA.ID — Visi Pemerintahan Beramal di bawah kepemimpinan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M, bersama Wakil Bupati Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, SP., M.M., membuktikan nyata pada pembangunan lingkungan berkelanjutan membuahkan prestasi membanggakan.
Setelah sebelumnya menerima apresiasi nasional sebagai Pembina Program Kampung Iklim (Proklim), Bupati Bone H. A. Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., kembali mengantarkan daerahnya mencatat sejarah baru di sektor pendidikan melalui Program Adiwiyata.
Sebanyak 15 sekolah di Kabupaten Bone berhasil meraih Penghargaan Adiwiyata Mandiri dan Adiwiyata Nasional Tahun 2025 dari Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.
Penyerahan penghargaan berlangsung dalam seremoni resmi di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Sekolah sebagai Garda Terdepan Gerakan Lingkungan
Bupati H. A. Asman Sulaiman menegaskan bahwa capaian ini merupakan wujud nyata konsistensi visi pembangunan Bone yang berlandaskan prinsip Mandiri, Berkeadilan, dan Berkelanjutan, khususnya dalam memprioritaskan sektor lingkungan.
“Adiwiyata bukan sekadar penilaian, tetapi adalah investasi strategis jangka panjang untuk membentuk karakter masyarakat Bone yang sadar dan peduli terhadap kelestarian lingkungan serta komitmen kuat dalam menerapkan berbudaya bersih di masa depan,”
ucapnya dalam keterangannya Rabu (3/12/2025).
Program Adiwiyata di Bone berfokus pada penguatan praktik pengelolaan sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle) melalui pembiasaan dan kegiatan edukasi langsung di sekolah. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik didaur ulang sebagai produk ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Bupati Bone menegaskan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari dukungan kebijakan daerah yang mendorong penerapan empat komponen inti Adiwiyata: kebijakan sekolah peduli lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, serta sarana dan prasarana ramah lingkungan.
Menurutnya, penghargaan bergengsi di bidang lingkungan hidup diberikan kepada sekolah yang konsisten mengembangkan perilaku ramah lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, penghijauan, hingga penerapan kurikulum berbasis lingkungan. Capaian tersebut sebagai bukti nyata bahwa kolaborasi antara sekolah, guru, siswa, dan masyarakat dapat menghasilkan perubahan positif yang berkelanjutan.
“Dengan capaian ini, Kabupaten Bone kembali menunjukkan keseriusannya dalam mendukung program pemerintah terkait pendidikan berwawasan lingkungan. Sekaligus memperkuat perannya sebagai daerah yang peduli terhadap kelestarian alam dan keberlanjutan hidup,” jelas Bupati Andi Asman.
“Total 15 sekolah raih penghargaan Adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup yang merupakan penghargaan Adiwiyata merupakan program pendidikan berbudaya lingkungan hidup di sekolah. Dua sekolah yang mendapat Adiwiyata Mandiri yang merupakan penghargaan tertinggi,” ucap Plt Kadis Pendidikan Bone Edy Saputra Syam.
Dikatakan Edy, kedua sekolah yang mendapat Adiwiyata Mandiri yakni SDN 23 Jeppe’e, dan SMA 13 Bone. Hanya 6 kabupaten di Sulsel yang menerima penghargaan tersebut.
“Para kepala sekolah yang mendapatkan penghargaan diundang ke Jakarta untuk mendapatkan penghargaan langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup. Hanya 6 kabupaten kota di Sulsel yang mendapatkan penghargaan tahun ini seperti Bone, Bulukumba, Kota Makassar, Gowa, Bantaeng, dan Luwu Timur,” benernya.
Kontribusi pada Ketahanan Pangan dan Kualitas Lingkungan.
Sebagai daerah penyumbang produksi padi dan jagung terbesar di Sulawesi Selatan, Bone memanfaatkan implementasi Adiwiyata untuk menjawab tantangan lingkungan dan ketahanan pangan.
Pelajar di sekolah-sekolah Adiwiyata terlibat langsung dalam proses pembuatan pupuk organik yang membantu meningkatkan kualitas tanah, termasuk mengatasi persoalan rendahnya kandungan C-Organik. Program konservasi air dan pengurangan penggunaan energi juga diajarkan secara sistematis untuk menjaga Indeks Kualitas Air (IKA) dan Indeks Kualitas Udara (IKU) tetap stabil.
Sinergi antara prestasi Pembina Proklim dan keberhasilan Adiwiyata dinilai menjadi bukti keseriusan Kabupaten Bone dalam membangun ekosistem lingkungan berkelanjutan dari tingkat komunitas hingga sekolah.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone berperan penting dalam pendampingan teknis dan penguatan kapasitas sekolah menuju predikat Adiwiyata.
DLH mencatat pencapaian signifikan, menjadikan Bone sebagai salah satu daerah paling menonjol di Sulawesi Selatan. Dari hanya enam kabupaten/kota penerima penghargaan tahun ini, Bone mendominasi dengan jumlah peserta terbanyak.
Rincian penghargaan:
2 sekolah meraih Adiwiyata Mandiri (level tertinggi)
13 sekolah meraih Adiwiyata Nasional
Sementara itu, Kepala Dinas DLH Bone, Dray Vibrianto, menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi penuh antara pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat.
“Pendampingan intensif menjadi kunci. Kami memastikan program Adiwiyata tidak hanya memenuhi standar administrasi, tetapi benar-benar mengakar sebagai budaya lingkungan berkelanjutan,” ucap mantan Kalaksa BPBD Bone.
Lebih lanjut Ia menambahkan, sebelumya ada 17 sekolah diusulkan mendapat penghargaan Adiwiyata Dari Kementerian Lingkungan Hidup. Namun, 15 yang mendapatkan penghargaan di Bone.
“Program Adiwiyata ada 17 sekolah diusulkan dari Bone, 15 yang dapat penghargaan, 2 diantaranya penghargaan tertinggi. Semua sekolah itu merupakan binaan Dinas Lingkungan Hidup Bone,” tambahnya.
Dray, menjelaskan Adiwiyata ini merupakan fokus dari DLH Bone untuk memperbanyak sekolah untuk penerapan kurikulum berbasis lingkungan. Kemudian 15 sekolah tersebut akan diundang menerima penghargaan.
“Itu konsen DLH Bone perbanyak sekolah untuk pengenalan lingkungan, ancaman ke depan adalah lingkungan mulai dari air bersih, sampah, dan sudah harus disiapkan sejak usia dini. Semua 15 sekolah itu akan diundang tanggal 10 Desember untuk mendapatkan penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup,” jelasnya.
Capaian ini menempatkan Kabupaten Bone sebagai rujukan pembangunan lingkungan berbasis pendidikan di kawasan Indonesia Timur, sekaligus mengukuhkan kepemimpinan Bupati H. A. Asman Sulaiman dalam membangun generasi beretika lingkungan dan berdaya saing global. (*/yus)




Tinggalkan Balasan