ZATERA.ID, GOWA — Program Mahasantri yang digagas Pemerintah Kabupaten Gowa bersama UIN Alauddin Makassar mulai menunjukkan hasil konkret. Sebanyak 167 mahasantri angkatan 2022/2023 berhasil menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

Capaian tersebut menjadi tonggak penting bagi program yang dirancang untuk melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an sekaligus sarjana yang nantinya ditempatkan sebagai penggerak literasi keagamaan di desa dan kelurahan.

Menariknya, dari total 167 lulusan, sebanyak 136 orang meraih predikat cumlaude, sementara 31 lainnya lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Seluruhnya menyelesaikan pendidikan dalam waktu rata-rata 3 tahun 10 bulan.


Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menilai keberhasilan tersebut bukan sekadar angka kelulusan, melainkan investasi sumber daya manusia yang akan memberikan dampak jangka panjang bagi pembangunan daerah.

Menurutnya, para lulusan Mahasantri diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu membawa nilai-nilai Al-Qur’an ke tengah masyarakat melalui pendidikan, dakwah, maupun pengabdian sosial.

“Keberhasilan ini adalah kebanggaan bagi Kabupaten Gowa. Namun yang lebih penting, ilmu yang diperoleh harus kembali kepada masyarakat dan menjadi manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Program Mahasantri sendiri merupakan kolaborasi Pemerintah Kabupaten Gowa dengan UIN Alauddin Makassar yang dijalankan sejak 2022.

Program ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembinaan karakter, pemahaman tafsir Al-Qur’an, serta penguatan hafalan Al-Qur’an.

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar, Prof. Muhaemin Latif, mengungkapkan hampir seluruh mahasantri yang lulus telah menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an.

Capaian tersebut dinilai sebagai modal besar bagi Kabupaten Gowa dalam memperkuat pendidikan keagamaan di tingkat desa dan kelurahan.

“Dengan kompetensi akademik dan hafalan Al-Qur’an yang dimiliki, mereka menjadi aset daerah yang sangat berharga untuk memperkuat literasi keagamaan di masyarakat,” katanya.

Salah satu lulusan terbaik, Adzkiya Inas, berhasil menyelesaikan studinya dengan IPK 3,94 dan predikat cumlaude. Ia mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari program yang membuka akses pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kapasitas keagamaan generasi muda Gowa.

Keberhasilan 167 mahasantri ini sekaligus menjadi indikator bahwa target mencetak satu hafiz di setiap desa dan kelurahan di Kabupaten Gowa mulai bergerak dari konsep menuju kenyataan.

Bagi Gowa, mereka bukan hanya lulusan kampus, tetapi juga calon penggerak pembangunan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. (NH/*)