Ketua Fraksi PPP, Nur As’ad Hijaz, mengungkapkan bahwa pada dasarnya seluruh anggota dewan memiliki keinginan yang sama: mempertahankan sosok M. Ramli Rewa sebagai Ketua DPRD.


GOWA | Rapat paripurna pergantian pimpinan di DPRD Gowa tak sekadar menjadi agenda formal kelembagaan. Di balik mekanisme politik yang berjalan, tersimpan suasana haru yang sulit disembunyikan para legislator maupun jajaran sekretariat.

Sejak awal sidang, raut wajah para pimpinan hingga staf kesekretariatan sudah menggambarkan suasana yang tidak biasa.

Ketegangan emosional itu memuncak saat Sekretariat DPRD Gowa, Andi Idhil, membacakan hasil keputusan paripurna.

Suaranya bergetar, hingga akhirnya tak mampu menahan tangis. Momen itu seketika mengubah ruang sidang menjadi penuh isak, bahkan dari sejumlah anggota dewan, khususnya legislator perempuan.

Di kursi pimpinan, kesedihan juga terlihat jelas. Air mata tak terbendung dari wajah Hasrul Abdul Rajab. Di sampingnya, Taufik Surullah dan Tyna Mawangi turut larut dalam suasana, berusaha menyeka air mata yang terus jatuh.

Paripurna siang itu bukan sekadar pengambilan keputusan, tetapi juga perpisahan emosional yang terasa mendalam.

Ketua Fraksi PPP, Nur As’ad Hijaz, mengungkapkan bahwa pada dasarnya seluruh anggota dewan memiliki keinginan yang sama: mempertahankan sosok M. Ramli Rewa sebagai Ketua DPRD.

“Semua memahami kapasitas beliau—figur senior, berkarakter, berintegritas, dan punya loyalitas tinggi. Tapi kami juga terikat oleh regulasi yang harus dijalankan,” ujarnya.

Ia menegaskan, kesedihan yang muncul bukanlah sekadar ekspresi personal, melainkan cerminan kedekatan emosional yang telah terbangun di internal parlemen Gowa.

Hal senada disampaikan sejumlah ketua fraksi lainnya. Mereka mengakui bahwa pergantian ini bukan karena faktor keinginan politik internal DPRD, melainkan konsekuensi dari mekanisme dan aturan partai.

“Tidak ada yang benar-benar ingin menggantikan beliau. Tapi ini adalah keputusan yang harus dijalankan sesuai aturan,” ungkap perwakilan fraksi.

Suasana haru bahkan dirasakan hingga di luar ruang sidang. Sejumlah personel Satpol PP yang bertugas di lingkungan DPRD Gowa turut mengaku kehilangan sosok yang selama ini dinilai dekat dengan berbagai kalangan.

“Bukan hanya anggota dewan, kami yang di lapangan juga merasakan. Sosok beliau memang diterima semua pihak. Tapi keputusan partai tentu tidak bisa dibendung,” ujar salah satu petugas.

Pergantian pimpinan ini pada akhirnya menjadi potret lain dari dinamika politik di Kabupaten Gowa, bahwa di balik keputusan struktural dan regulasi, ada relasi kemanusiaan yang terbangun kuat, dan tak jarang meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam. (YR/*)