
By: Rahmat Mustafa
Cogito ergo sum, kata Renatus Cartesius atau Rene Descarter. Artinya, aku berpikir maka aku ada.
Menurut filsuf berkebangsaan Prancis itu bahwa tindakan berpikir merupakan eksistensi keberadaan manusia.
Nah, bertitik tolak dari Descarter ini, saya berusaha memilih judul di atas karena merupakan pijakan presensi dari dua nafas yang saling menguatkan antara membaca dan menulis.
Aku membaca, maka aku ada. Dengan membaca, manusia tak hanya sekadar berpikir, tetapi merasakan denyut hidup orang lain.
Di saat pemahaman membaca telah menghunjam dan mengkristal, maka muncul sebuah kebutuhan untuk tak sekadar ada. Tetapi juga meninggalkan jejak. Aku menulis, maka aku abadi.
Membaca menghidupkan kita, sementara menulis membuat kehidupan itu bergaung melampaui batas usia.
Di kamar yang sunyi atau di tengah keramaian, selalu ada ruang hening yang tercipta ketika seseorang larut dalam bacaan, atau saat jemarinya mengetik mengikuti arah pikiran.
Membaca adalah perjalanan tanpa harus mengemas koper. Saat membuka sebuah buku atau terpampang artikel di layar. Saat itu kita sedang diundang masuk ke dalam pikiran orang lain.
Ketika membaca, kita bisa terpental jauh ke belakang menikmati keindahan kota Batavia sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan VOC di Hindia Belanda.
Kita pun mampu melesat jauh ke depan di saat membaca karya Mashuri berjudul “Destination: Jakarta 2040.”
Setiap bacaan adalah percakapan intim di keheningan. Dalam hening, kita tidak hanya menyerap informasi, tetapi kita belajar berempati, melihat dunia dari kaca mata yang berbeda.
Dan di ujung perjalan, kita mengenal bagian-bagian diri kita sendiri yang sebelumnya tersembunyi.
Membaca melatih kita untuk sabar, untuk fokus, untuk merenung, dan menjadi oasis ketenangan di tengah padang pasir kebisingan digital.
Lalu, apa jadinya perjalanan itu jika tidak ada yang menceritakannya kembali? Di sinilah menulis mengambil perannya.
Jika membaca adalah menerima, menulis adalah memberi. Menulis merupakan upaya pemberian bentuk pada kekacauan batin, pada gagasan yang masih kabur, pada emosi yang menggumpal di dada.
Prosesnya kerap dipenuhi keraguan, terasa menantang, dan jarang berjalan mulus. Tulisan direvisi berulang kali. Namun justru di sanalah keajaiban perlahan menemukan jalannya.
Saat menulis, kita dipaksa untuk jujur pada diri sendiri, untuk menyusun puzzle pikiran menjadi narasi yang koheren, dan menemukan suara yang unik yang hanya kita miliki.
Menulis adalah bentuk keberanian, mengubah yang privat menjadi ruang publik, sekaligus membiarkannya untuk diuji. Apakah diterima, dipelintir, atau disalahpahami sepenuhnya.
Yang menarik, seorang pembaca, biasanya memiliki bekal untuk menjadi penulis yang peka, karena ia telah menyerap berbagai ritme bahasa, alur cerita, dan kedalaman karakter.
Sebaliknya, seorang penulis yang menulis dengan sungguh-sungguh akan menjadi pembaca yang lebih kritis dan penuh penghargaan.
Karena ia tahu betul, betapa tenaga dan pikiran terkuras habis untuk menghasilkan kalimat yang tersusun rapi.
Membaca memberi kita bahan bakar, inspirasi, dan peta. Menulis mengajak kita untuk menjelajahi wilayah baru berdasarkan peta itu, atau justru menggambar peta kita sendiri untuk dibagikan.
Dalam masyarakat modern saat ini, meluangkan waktu untuk kegiatan seperti membaca dan menulis dapat terasa tidak biasa atau bahkan mewah.
Karena, kemewahan sejati adalah sesuatu yang sangat fundamental, mendalam, dan esensial bagi pengalaman manusia. Ia berakar pada kualitas hidup internal, bukan eksternal.
Tidak perlu muluk-muluk. Membaca bisa dimulai dari sepuluh halaman sebelum tidur.
Menulis bisa dimulai dari satu alinea di pagi hari tentang mimpi semalam atau keresahan hari ini. Yang penting adalah memulai dan merasakan alirannya.
Membaca dan menulis menempati posisi penting sebagai proses intelektual sekaligus reflektif.
Melalui keduanya, gagasan dirawat agar tidak memudar, nalar diasah agar tetap tajam, dan kepekaan sosial dipertahankan agar nurani senantiasa terjaga.
sekianG**







Tinggalkan Balasan