
Petikan Hikmah Ramadan (19)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
SAAT ini kita hidup di zaman yang serba terhubung. Akan tetapi kita sering merasa terputus, terutama secara batin.
Informasi mengalir tanpa henti, notifikasi datang silih berganti, opini berseliweran tanpa jeda. Dunia digital memberi kemudahan, namun sekaligus menghadirkan tekanan.
Tanpa disadari, jiwa kita terkuras oleh arus yang terus bergerak cepat. Di tengah situasi ini, Ramadan mengajak kita berhenti sejenak dan kembali kepada sumber ketahanan sejati, Al-Qur’an.
Ketahanan spiritual adalah kemampuan menjaga kestabilan batin di tengah perubahan dan tekanan.
Ia bukan sekadar kesabaran sesaat, tetapi kekuatan yang membuat kita tetap teguh dalam nilai dan prinsip.
Kita beruntung karena Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang batil.
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al-Baqarah : 185).
Di dalam ayat lain ditegaskan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya dan rahmat bagi orang-orang beriman. Artinya, wahyu bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk menjadi fondasi kekuatan batin.
Era digital menghadirkan tantangan yang unik. Kita terpapar pada perbandingan sosial yang tak ada habisnya.
Berita yang kadang memicu kecemasan, dan budaya instan yang melemahkan kesabaran, terus mendera.
Validasi sering diukur dari jumlah “like” dan “followers,” bukan dari kualitas akhlak. Dalam situasi seperti ini, tanpa pegangan yang kokoh, seseorang mudah goyah dan emosional.
Al-Qur’an Sebagai Jangkar
Di sinilah Al-Qur’an berperan sebagai jangkar. Ia mengajarkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh penilaian publik, melainkan oleh ketakwaan.
Ia menanamkan kesadaran bahwa hidup adalah amanah dan ujian, bukan panggung pencitraan.
Ketika ayat-ayat tentang kesederhanaan, kejujuran, dan tanggung jawab direnungkan, seseorang akan memiliki filter moral dalam menggunakan teknologi. Media sosial tidak lagi menjadi ajang pamer, tetapi ruang berbagi kebaikan.
Ramadan memberikan ruang untuk membangun kembali ketahanan itu. Saat puasa melatih pengendalian diri terhadap kebutuhan fisik, tilawah dan tadabbur melatih kedewasaan batin dalam menghadapi arus digital.
Membaca Al-Qur’an sebelum membuka gawai, merenungkan ayat sebelum menanggapi komentar, atau menghadirkan nilai-nilai wahyu dalam setiap unggahan. Semua itu adalah bentuk konkret integrasi antara iman dan teknologi.
Ketahanan spiritual juga berarti kemampuan menyaring informasi. Tidak semua yang viral itu benar, tidak semua yang populer itu baik.
Al-Qur’an mengajarkan prinsip tabayyun, memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan.
Jika nilai ini dihidupkan, maka ruang digital akan menjadi lebih sehat dan beradab. Sebaliknya, tanpa panduan wahyu, teknologi bisa menjadi alat penyebar kebencian dan disinformasi.
Lebih dari itu, Al-Qur’an menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas, termasuk aktivitas digital.
Ketika seseorang yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui, ia akan lebih berhati-hati dalam menulis, berbicara, dan membagikan sesuatu.
Inilah benteng terdalam dari ketahanan spiritual, kesadaran ilahiah yang terus menyertai.
Maka, Ramadan ini hendaknya tidak hanya diisi dengan peningkatan ibadah ritual, tetapi juga penguatan fondasi batin dalam menghadapi era digital.
Jadikan Al-Qur’an sebagai kompas dalam bersikap, sebagai filter dalam menerima informasi, dan sebagai cahaya dalam menentukan arah.
Teknologi akan terus berkembang, tetapi jiwa yang kuat tidak lahir dari kecepatan akses, melainkan dari kedalaman makna.
Mari kita kembali kepada Al-Qur’an, karena di sana terdapat ketenangan dan keteguhan.
Dengan wahyu sebagai pegangan, kita tidak akan hanyut oleh arus zaman, tetapi mampu berdiri teguh, menjadi insan digital yang tetap religius, produktif sekaligus berprinsip. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan