
Petikan Hikmah Ramadhan (20)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
PERADABAN manusia terus bergerak. Teknologi berkembang, sistem ekonomi berubah, pola komunikasi melaju tanpa batas. Namun, di balik kemajuan itu, dunia juga menyaksikan krisis yang tak kalah besar, yaitu krisis moral, krisis keadilan, dan krisis makna.
Manusia modern mampu menaklukkan ruang dan waktu, tetapi sering kehilangan arah. Di sinilah Ramadhan mengingatkan kita bahwa ada kompas yang tidak pernah usang oleh zaman, Al-Qur’an.
Al-Qur’an diturunkan tidak hanya untuk generasi tertentu atau untuk ruang ibadah semata. Ia hadir sebagai petunjuk bagi manusia secara keseluruhan. Allah menegaskan hal itu dalam firman-Nya:
“Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang muslim.” (QS. An-Nahl : 89)
Penegasan ini menunjukkan bahwa wahyu memiliki dimensi yang kompleks. Kandungan Al-Qur’an menyentuh aspek spiritual, moral, sosial, bahkan peradaban. Ia menjadi kompas dalam semua aspek kehidupan manusia.
Sebagai kompas, Al-Qur’an memberikan arah yang jelas tentang bagaimana manusia membangun kehidupan.
Ia berbicara tentang tauhid sebagai fondasi nilai, tentang keadilan sebagai pilar sosial, tentang amanah sebagai prinsip kepemimpinan, dan tentang keseimbangan sebagai dasar pengelolaan kehidupan dunia dan akhirat.
Tidak ada aspek kehidupan yang luput dari sentuhan nilai-nilainya.
Sejarah membuktikan bahwa ketika Al-Qur’an dijadikan rujukan utama, lahirlah peradaban yang unggul.
Generasi awal umat Islam tidak hanya dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi juga sebagai ilmuwan, pemimpin, dan pembangun masyarakat yang berintegritas.
Mereka menjadikan wahyu sebagai sumber inspirasi dalam ilmu pengetahuan, tata kelola ekonomi, hingga etika sosial.
Cahaya Al-Qur’an tidak membatasi kreativitas, justru membimbingnya agar tetap berada dalam koridor kebenaran.
Dalam konteks kekinian, kebutuhan akan kompas peradaban semakin mendesak. Globalisasi membawa peluang sekaligus ancaman.
Nilai-nilai asing masuk tanpa filter, budaya instan menggerus kedalaman, dan pragmatisme mengalahkan idealisme.
Tanpa panduan yang kokoh, masyarakat mudah terombang-ambing oleh arus kepentingan dan tren sesaat.
Al-Qur’an menawarkan prinsip yang bersifat universal dan abadi. Ia menekankan pentingnya keadilan sosial di tengah ketimpangan ekonomi.
Ia menegaskan larangan korupsi dan pengkhianatan amanah di tengah krisis integritas. Ia mendorong pencarian ilmu sebagai jalan kemajuan.
Ia mengajarkan musyawarah sebagai mekanisme pengambilan keputusan. Semua itu adalah fondasi peradaban yang sehat dan berkelanjutan.
Al-Qur’an Perlu Dipahami dan Diamalkan
Ramadan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran peradaban ini. Interaksi kita dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada bacaan personal, tetapi harus meluas menjadi gerakan kolektif.
Keluarga menjadikannya pedoman pendidikan, pemimpin menjadikannya dasar kebijakan, pelaku ekonomi menjadikannya rambu etika, dan generasi muda menjadikannya inspirasi inovasi.
Namun, menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas peradaban menuntut keseriusan dalam memahami dan mengamalkannya.
Kita tidak cukup mengaguminya sebagai kitab suci, tetapi harus berani menghadirkan nilai-nilainya dalam sistem kehidupan.
Dari kejujuran dalam transaksi hingga tanggung jawab dalam kekuasaan. Dari kepedulian terhadap kaum lemah hingga komitmen terhadap ilmu. Semua adalah wujud nyata dari implementasi wahyu dalam kehidupan.
Peradaban yang besar bukan hanya diukur dari gedung-gedung tinggi atau kecanggihan teknologi, tetapi dari kualitas akhlak dan keadilan sosialnya.
Al-Qur’an telah menyediakan kerangka yang lengkap untuk membangun itu semua. Tinggal bagaimana kita menjadikannya kompas, bukan sekadar simbol.
Di bulan Ramadan ini, kita kembali menempatkan Al-Qur’an pada posisi yang semestinya, sebagai sumber cahaya, penuntun arah, dan fondasi peradaban.
Dengan kompas yang benar, perjalanan umat tidak akan kehilangan tujuan. Dan, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, masa depan dapat dibangun sesuai dengan arah yang benar, arah yang dikehendaki dan diridhoi oleh Allah Swt. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan