
Petikan Hikmah Ramadhan (28)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
HARI ini adalah hari ke 27 bulan Ramadan 1447 Hijriyah. Beberapa hari ke depan, Ramadan segera berlalu. Hari-hari menjelang kepergian Ramadan, terutama di malam hari, suasana spiritual terasa semakin mendalam.
Umat Islam menghidupkan malam dengan doa, tilawah Al-Qur’an, dan berbagai amal kebaikan.
Semua itu dilakukan dengan harapan dapat meraih keberkahan Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Ramadan bukan sekadar bulan ibadah yang datang setiap tahun lalu berlalu tanpa meninggalkan jejak. Ia adalah perjalanan spiritual yang dirancang untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang bertakwa.
Karena itu, ketika Ramadan hampir mencapai penghujungnya, yang diharapkan bukan hanya selesainya puasa selama sebulan, tetapi lahirnya pribadi yang lebih dekat kepada Allah.
Tujuan utama puasa telah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Di dalam ayat tersebut tegas dinyatakan bahwa ibadah puasa bertujuan membentuk ketakwaan dalam diri manusia. Ketakwaan yang bukan sekadar istilah teologis, tetapi sebuah sikap hidup.
Ia tercermin dalam kesadaran bahwa Allah selalu hadir dalam setiap langkah kehidupan. Orang yang bertakwa akan berhati-hati dalam perkataan, jujur dalam tindakan, serta penuh tanggung jawab dalam menjalani amanah kehidupan.
Ramadan Madrasah Ketakwaan
Selama Ramadan, kita dilatih untuk mengendalikan diri. Kita menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, menjaga lisan, serta memperbanyak ibadah.
Semua latihan ini bukanlah tujuan akhir, melainkan proses pembentukan karakter. Puasa mengajarkan bahwa manusia mampu mengendalikan dirinya ketika ia memiliki kesadaran spiritual yang kuat.
Ramadan juga mengajarkan empati sosial. Ketika seseorang merasakan lapar sepanjang hari, ia akan lebih mudah memahami penderitaan orang lain yang hidup dalam kekurangan.
Dari sinilah lahir kepedulian untuk berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah. Ketakwaan sejati memang tidak hanya terlihat dalam hubungan dengan Allah, tetapi juga dalam kepedulian terhadap sesama manusia.
Selain itu, ukuran keberhasilan Ramadan juga terlihat pada kesungguhan ibadah selama bulan suci ini.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah nilai-nilai yang dilatih selama Ramadan mampu membentuk perubahan dalam kehidupan kita.
Apakah kita menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah?
Jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing.
Jika perubahan itu benar-benar terjadi, maka Ramadan telah berhasil menjalankan perannya sebagai madrasah ketakwaan.
Sebaliknya, jika kehidupan kembali seperti semula tanpa perubahan berarti, maka Ramadan mungkin hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan.
Oleh karena itu, di malam-malam terakhir Ramadan ini, sejatinya kita memperbarui niat dan tekad untuk menjadikan bulan suci ini sebagai titik awal perubahan.
Kita menjadikan nilai-nilai yang telah dilatih selama sebulan ini sebagai fondasi untuk menjalani kehidupan sepanjang tahun.
Ketakwaan bukanlah capaian yang selesai dalam satu bulan, tetapi perjalanan panjang yang terus diperjuangkan.
Semoga Ramadan yang kita jalani tidak hanya menjadi rangkaian ibadah yang berlalu tanpa dampak yang berarti.
Kita berharap, Ramadan benar-benar menjadi jalan menuju pribadi yang bertakwa, pribadi yang hatinya hidup dengan iman, tindakannya dipenuhi kebaikan, dan langkah hidupnya selalu diarahkan untuk mencari ridha Allah. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan