
Menulis dengan baik dimulai dari rasa percaya diri untuk menampilkan hasil karya yang orisinil bersumber dari diri sendiri.
Perhatikan sejenak di sekeliling kita, lalu amati hal-hal kecil yang menyentuh. Bisa melalui pendengaran, pandangan, atau pikiran yang sedang menerawang.
Entah itu suara hujan turun, suara jangkrik, atap rumah kondisinya sudah lapuk, atau apa saja yang menarik, hingga menggugah hati.
Dari situlah biasanya ide murni muncul. Tulis apa adanya terlebih dahulu, tanpa sensor, tanpa mengkhawatirkan apakah kalimat itu indah atau tidak. Kejujuran awal adalah fondasi dari tulisan yang hidup.
Saat menulis, gunakan bahasa yang mudah dimengerti, terasa natural, seperti sedang bercerita kepada seseorang yang dipercayai.
Fokus pada apa yang benar-benar ingin disampaikan, bukan menurut orang lain yang seharusnya ditulis.
Lihat sebuah peristiwa dari sudut pandang kita sendiri, bukan dari sudut pandang secara umum. Orisinalitas bukan soal ide besar, tetapi tentang cara menatap sesuatu dengan apa adanya.
Dalam prosesnya, hindari menggunakan bantuan teknologi apa pun, baik itu aplikasi menulis otomatis, pemeriksa gaya, kecerdasan buatan (AI), atau alat yang menawarkan jalan pintas.
Biarkan pikiran bekerja tanpa campur tangan algoritma. Biarkan tangan ini menuliskan apa yang ingin hati ucapkan.
Tulisan yang lahir langsung dari diri sendiri akan jauh lebih jujur dan memiliki ciri khas yang tidak bisa ditiru siapa pun.
Banyak penulis terkenal selalu mengingatkan bahwa orisinalitas adalah nadi sebuah karya.
Mereka menekankan tulisan yang benar-benar kuat lahir dari keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Bukan dari meniru, bukan dari formula, tetapi dari suara batin yang berani muncul ke permukaan.
Mereka percaya bahwa pembaca bisa merasakan kapan sebuah tulisan lahir dari kejujuran, dan kapan tulisan sekadar menempelkan kata-kata indah tanpa ruh.
Saya teringat dengan almarhum Rahman Arge, penulis kawakan Harian Fajar. Beliau juga seorang wartawan senior, budayawan Sulsel, Anggota DPR/MPR, peraih Piala Citra Pemeran Pembantu Pria Terbaik FFI 1990.
Om Arge, sapaan akrab saya kepadanya. Ia bercerita, jika ingin menulis sesuatu, sambil memejamkan matanya, memulai dengan menekan secara acak satu huruf yang ada di mesin ketiknya.
Dari huruf pertama itulah, om Arge memulai petualangan menulisnya secara orisinil. Jika membaca tulisan-tulisan beliau, seperti aliran air yang mengalir lembut. Tulisan yang jujur meresap perlahan ke dalam hati dan meninggalkan jejak kehangatan.
Oleh karenanya, mari memulai dari yang paling jujur dalam diri kita saat menuliskan sesuatu.
Karena kejujuran itu menembus teknik, dan hanya kejujuran yang bisa menghubungkan penulis dan pembaca.
Kata Ernest Hemingway: “Write the truest sentence that you know.” Tulis kalimat paling jujur yang benar-benar Anda rasakan. Kejujuran adalah kekuatan utama sebuah tulisan.
sekianG**
Rahmat Mustafa
Makassar, 3 Desember 2025 _(Bertepatan dengan pemilihan langsung Ketua RT se-Kota Makassar)_




Tinggalkan Balasan