
Petikan Hikmah Ramadan (15)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
RAMADAN seringkali hanya dimaknai sebagai bulan menahan lapar dan dahaga. Padahal, jika kita menyelami lebih dalam ke Sirah Nabawiyah, bulan Ramadan sesungguhnya merupakan madrasah untuk mengasah karakter kepemimpinan dan cara kita berinteraksi dengan dunia.
Salah satu permata hikmah yang bisa kita petik di pertengahan Ramadan ini adalah gaya diplomasi Rasulullah Saw., sebuah kombinasi langka antara kelembutan hati yang tulus dan ketegasan prinsip yang tak tergoyahkan.
Diplomasi sebagai Cerminan Puasa
Puasa mengajarkan kita self-control. Dalam diplomasi, kontrol diri adalah segalanya. Rasulullah Saw., menunjukkan bahwa menjadi tegas tidak berarti kasar, dan menjadi lembut tidak berarti lemah.
Beliau adalah pribadi yang paling fasih dalam berkomunikasi, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui sikap yang memanusiakan lawan bicaranya.
Dalam konteks Ramadan, diplomasi ini dimulai dari dalam. Saat rasa lapar memicu emosi, kita diuji untuk tetap berkata baik. Inilah akar dari diplomasi Islam, al-Layn (kelembutan) yang lahir dari kekuatan jiwa, bukan dari ketakutan.
Kalau kita mencermati kisah Perjanjian Hudaibiyah, secara kasat mata, banyak sahabat yang merasa ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut merugikan umat Islam.
Namun, Rasulullah dengan ketenangan diplomatisnya melihat jauh ke depan. Beliau memilih mengalah dalam diksi (seperti menghapus kalimat
Bismillahirrahmanirrahim dan Muhammad Rasulullah atas permintaan negosiator Quraisy) demi terciptanya perdamaian jangka panjang.
Di sini kita belajar, kelembutan adalah instrumen kemenangan. Dalam kehidupan sehari-hari, diplomasi bisa kita terapkan saat menghadapi perbedaan pendapat di lingkungan kerja atau komunitas.
Kelembutan dalam menyampaikan argumen justru menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi atas kebenaran yang kita bawa.
Kelembutan yang diperlihatkan Rasulullah dalam berdiplomasi dengan negosiator Quraisy, sungguh sangat menyejukkan. Namun, jangan salah sangka. Kelembutan Rasulullah memiliki batas yang jelas, yaitu prinsip akidah dan keadilan.
Beliau tidak pernah berkompromi dalam hal yang menyangkut hak-hak Allah dan kemanusiaan. Tegas dalam hal ini berarti memiliki batasan (boundaries) yang jelas.
Bagi kita yang sedang berpuasa, ketegasan ini tercermin dari disiplin kita terhadap waktu dan aturan ibadah. Kita tegas menolak hal-hal yang membatalkan pahala puasa, meski godaan datang dengan wajah yang ramah.
Itulah esensi diplomasi mukmin, ramah dalam pergaulan, namun kokoh dalam pendirian.
Evaluasi Diri Sebelum Ramadan Berlalu
Memasuki hari ke-14, mari kita evaluasi, sejauh mana puasa kita mengubah cara kita berbicara dengan orang lain? Apakah kita masih sering berperang kata-kata hanya karena ego yang merasa benar?
Sejatinya kita meneladani diplomasi Rasulullah. Dengan begitu, kita belajar menimbang, kapan harus memberi ruang dan kapan harus berdiri tegak.
Mari jadikan sisa Ramadan ini sebagai momentum untuk memperbaiki hubungan antarsesama dengan bahasa yang santun, namun tetap membawa prinsip kebenaran yang kuat.
Karena pada akhirnya, dakwah yang paling membekas adalah yang disampaikan dengan lisan yang basah oleh zikir dan hati yang dipenuhi kasih sayang. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan