Petikan Hikmah Ramadan (25)


Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

RAMADAN perlahan bergerak menuju penghujungnya. Hari-hari yang penuh rahmat, malam-malam yang sarat ampunan, serta detik-detik yang dipenuhi keberkahan, kini terasa semakin dekat dengan perpisahan.

Di fase akhir inilah hati seorang mukmin biasanya menjadi lebih lembut, lebih khusyuk, dan lebih penuh harap. Salah satu ibadah yang paling kuat menggambarkan harapan tersebut adalah doa.

Doa adalah bahasa jiwa seorang hamba kepada Tuhannya. Ia bukan sekadar rangkaian kata yang terucap dari lisan, tetapi bisikan hati yang memohon kasih sayang Allah.

Di penghujung Ramadan, doa memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia menjadi ungkapan syukur atas kesempatan beribadah, sekaligus harapan agar segala amal yang telah dilakukan diterima oleh Allah.

Rasulullah Saw., mengajarkan bahwa hari-hari terakhir Ramadan adalah saat yang sangat istimewa untuk memperbanyak doa. Terlebih lagi, di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadr, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Dalam sebuah hadis, ketika Sayyidah Aisyah r.a. bertanya tentang doa yang sebaiknya dibaca jika bertemu malam tersebut, Rasulullah Saw., mengajarkan doa yang sangat sederhana namun penuh makna:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.”
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Doa Penuh Harap dan Rendah Hati
Doa ini mengajarkan satu hal penting, bahwa di hadapan Allah, manusia adalah makhluk yang penuh kekurangan.

Sebanyak apa pun amal yang dilakukan, seorang hamba tetap membutuhkan ampunan-Nya. Oleh karena itu, doa di ujung Ramadan sejatinya dipenuhi harapan yang disampaikan dengan penuh kerendahan hati.

Pada saat yang sama, doa juga menjadi ruang refleksi. Kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah Ramadan ini membawa perubahan dalam hidup kita?

Sudahkah hati kita menjadi lebih lembut, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah? Jika jawabannya belum sepenuhnya, maka doa menjadi jembatan untuk memohon kesempatan memperbaiki diri.

Sesungguhnya, keindahan doa di penghujung Ramadan tidak hanya terletak pada permintaan yang disampaikan, tetapi pada kesadaran bahwa kita sedang berdiri di hadapan Tuhan yang Maha Mendengar.

Setiap air mata, setiap bisikan harapan, bahkan setiap doa yang terucap lirih di tengah malam, semuanya sampai kepada-Nya.

Karena itu, jangan biarkan Ramadan berakhir tanpa memperbanyak doa. Mintalah kepada Allah agar menerima puasa kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan Ramadan ini sebagai titik awal kehidupan yang lebih baik.

Berdoalah untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk umat, dan untuk masa depan yang penuh keberkahan.

Pada akhirnya, doa di ujung Ramadan adalah gema harapan seorang hamba. Ia menggema dari hati yang rindu akan rahmat Allah dan berharap agar cahaya Ramadan tetap hidup dalam kehidupan setelahnya.

Semoga setiap doa yang terangkat di hari-hari terakhir ini menjadi saksi bahwa kita pernah bersungguh-sungguh mencari ampunan dan kasih sayang-Nya. Wallahu a’lam.[*]