By. Rahmat Mustafa

KITA ini aneh, kadang ajaib. Kalau ditawari french fries, langsung ambil.

Tapi, saat kambing lasuna disodorkan, kita tanya dulu,“Ini apa ya?”

Padahal sama-sama ji makanan. Bedanya cuma sibitto alias secuil saja.

Yang satu biasa mejeng di meja ciber restoran. Satunya lagi nongkron di meja garuttulu’ dapur rumah.

Tenang, kambing lasuna itu bukan kambing beneran. Nama peganan khas Bugis-Makassar yang terbuat dari bahan terigu dan bawang merah.

Oh iya, saya pakai dua makanan ini sebagai perumpamaan saja, bukan adu enak!

Kalau french fries itu mewakili barat atau budaya western. Sementara kambing lasuna, cuma lokal alias budaya kita.

Satu terkenal, satu dikenal. Satu mendunia, satunya “mending di rumah saja”.

Dan kita hidup di zaman di mana yang mendunia sering dianggap lebih oke, lebih wah.

Memang begitu adanya. Budaya ke barat. Ilmu ke barat. Motivasi? Apalagi.

Kita sedih, buka Instagram, Facebook, yang muncul kutipan orang barat semua.

Sumpah, saya tidak anti barat! Saya juga makan french fries. Bahkan kadang nambah.

Masalahnya bukan di kentangnya. Tapi, kenapa kita lupa sama bawangnya kambing lasuna?

Coba jujur. Kalau ada kutipan berbunyi:
“Positive thinking creates positive results,” kita langsung bilang, “Wah, cakeepp!”

Padahal nenek kita dari zaman baheula sudah bilang: “Janganmi berbuat buruk, nak.”

Cuma karena nenek tidak pakai jas kupu-kupu dan sepatu pantofel, kita anggap itu bukan motivasi.

Norman Vincent Peale bilang, pikiran positif memengaruhi dunia sekitar kita secara positif. Bagus. Keren. Tepuk tangan.

Tapi orang Bugis-Makassar sudah lama bilang lewat Lontara: “Dua kuala sappo, unganna panasae sibawa belo kanukue.”

Dua kujadikan pagar: jujur dan bersih. Versi sekarangnya mungkin begini: “Kasih luruski dulu niat ta, baru update status meki.”

Karena hidup ini lucu. Kita sering ingin hasil baik. Namun niatnya setengah. Caranya bengkok.

Lalu marah sama takdir. Untungnya bukan takdir teman saya yang besar badannya dan lebat kumisnya.

Kerja hukum alam sederhana sekali. Apa yang ditanam, itulah yang dituai.

Menanam pohon lobe-lobe, jangan harap memetik mandike. Yang sering salah bukan alam, ekspektasi kita sendiri.

Niat baik itu seperti pondasi rumah. Tidak kelihatan, tapi kalau tidak ada, satu gempa kecil atau goyang sedikit saja, langsung roboh.

Jadi silakan nikmati french fries. Tidak dilarang. Tapi jang tongki lupa kodong itu kambing lasuna.

Meski tidak terkenal, tapi mengenyangkan. Tidak mewah, melainkan jujur.

Karena sering kali, yang paling menyelamatkan hidup kita, bukan yang kita cari jauh-jauh.

Justru yang sejak dulu sudah ada di rumah sendiri—kambing lasuna!

𝙨𝙚𝙠𝙞𝙖𝙣𝙂**