
Petikan Hikmah Ramadan (53)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
RAMADAN yang baru saja berlalu, bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi juga bulan pembentukan karakter.
Selama sebulan penuh, kita dilatih untuk menahan diri, menjaga lisan, mengendalikan emosi, dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.
Semua itu sejatinya bermuara pada satu nilai besar, integritas. Kita berharap setelah Ramadan berlalu, nilai itu benar-benar tumbuh dalam diri kita.
Integritas adalah kesatuan antara hati, pikiran, dan tindakan. Ia tercermin dalam kejujuran, konsistensi, dan komitmen terhadap nilai kebenaran, meskipun tidak ada yang mengawasi.
Dalam konteks Ramadan, integritas dilatih secara intens. Kita berpuasa bukan karena manusia melihat, tetapi karena keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui.
Kita menahan diri dari yang halal di siang hari, sebagai bentuk ketaatan yang lahir dari kesadaran batin.
Inilah fondasi integritas sejati, melakukan yang benar, meskipun ketika tidak ada yang melihat.
Allah Swt., berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2–3).
Ayat ini menegaskan pentingnya keselarasan antara ucapan dan perbuatan, yang merupakan inti dari integritas itu sendiri. Seorang mukmin tidak hanya pandai berkata, tetapi juga mampu membuktikan dengan tindakan nyata.
Rasulullah Saw., adalah teladan sempurna dalam hal integritas. Sebelum diangkat menjadi nabi, beliau telah dikenal dengan gelar Al-Amin, yang terpercaya.
Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa hilangnya integritas adalah ciri kemunafikan, sementara menjaganya adalah tanda keimanan.
Integritas Membutuhkan Keberanian
Pasca Ramadan, integritas harus menjadi buah nyata dari seluruh latihan spiritual yang telah kita jalani.
Ia harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dalam pekerjaan yang dilakukan dengan jujur, dalam janji yang ditepati, dalam tanggung jawab yang dijalankan dengan penuh amanah.
Seorang dosen yang berintegritas tidak hanya hadir di kelas, tetapi juga menjalankan tugasnya dengan penuh kesungguhan.
Seorang pemimpin yang berintegritas tidak hanya berbicara tentang kebaikan, tetapi juga menjadi teladan dalam praktiknya.
Menjaga integritas bukanlah perkara mudah. Ia membutuhkan keberanian untuk tetap benar di tengah tekanan, kesabaran untuk tetap jujur di tengah godaan, dan keteguhan untuk tetap lurus di tengah arus yang menyimpang.
Di sinilah nilai Ramadan terus diuji, apakah ia benar-benar membentuk karakter, atau hanya meninggalkan kesan sesaat.
Integritas adalah mahkota yang tidak terlihat, tetapi sangat terasa dampaknya. Ia membangun kepercayaan, menghadirkan ketenangan, dan membuka jalan keberkahan dalam hidup.
Mari kita jadikan Ramadan sebagai titik awal lahirnya pribadi-pribadi berintegritas. Pribadi yang tidak hanya baik di hadapan manusia, tetapi juga benar di hadapan Allah Swt.
Karena sejatinya, keberhasilan Ramadan diukur dari seberapa kuat integritas itu hidup dalam diri kita setelahnya. Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan