Petikan Hikmah Ramadan (34)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

RAMADAN telah berlalu. Bulan penuh berkah itu meninggalkan kenangan spiritual yang begitu mendalam.

Selama sebulan penuh, kita bersamanya, berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui puasa, shalat malam, membaca Al-Qur’an, serta berbagai amal kebaikan lainnya.

Masjid-masjid menjadi lebih hidup, doa-doa lebih sering terucap, dan hati terasa lebih lembut dalam memandang kehidupan.

Kepergian Ramadan adalah kepastian yang tidak dapat ditawar-tawar. Ramadan tidak mau tahu apakah kita sudah maksimal beribadah di bulan itu atau belum.

Satu hal yang pasti, Ramadan telah menunaikan tugasnya, menempa umat Islam untuk menjadi orang yang bertaqwa, sesuai dengan tujuan utama Puasa Ramadan.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah ; 183).

Apa dan bagaimana seharusnya setelah kita ditinggalkan oleh bulan Ramadan?

Jawabannya adalah, istiqamah. Sebab, ujian yang sesungguhnya baru dimulai, dan karena itu, kita dituntut untuk tetap istiqamah.

Istiqamah berarti konsisten dalam kebaikan. Ia bukan sekadar semangat sesaat yang muncul pada momentum tertentu, tetapi komitmen untuk terus berjalan di jalan yang benar meskipun situasi telah berubah.

Dalam konteks setelah Ramadan, istiqamah berarti menjaga nilai-nilai yang telah dilatih selama bulan suci agar tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Sering kali seseorang begitu bersemangat dalam beribadah selama Ramadan, tetapi perlahan-lahan semangat itu memudar seiring berlalunya Ramadan.

Al-Qur’an yang sebelumnya sering dibaca mulai jarang disentuh, shalat berjamaah yang semula terasa ringan menjadi kembali berat, dan kepedulian sosial yang sempat tumbuh perlahan meredup.

Padahal, ukuran keberhasilan Ramadan justru terlihat dari apa yang terjadi setelahnya.

Jika seseorang mampu mempertahankan kebiasaan baik meskipun dalam kadar yang lebih sederhana, itu adalah tanda bahwa Ramadan benar-benar meninggalkan jejak dalam hatinya.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.

Pesan ini menegaskan bahwa kualitas ibadah tidak diukur dari besarnya amal yang dilakukan dalam waktu singkat, tetapi dari konsistensi dalam menjaganya sepanjang waktu.

Istiqamah Butuh Kesabaran, Keikhlasan dan Usaha Sungguh-sungguh

Menjaga istiqamah setelah Ramadan memerlukan kesadaran dan usaha yang sungguh-sungguh.

Kita perlu menetapkan kebiasaan ibadah yang realistis namun konsisten, diantaranya; menjaga shalat tepat waktu, meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, serta menjaga akhlak dalam setiap interaksi sosial.

Istiqamah memang bukan perkara mudah. Ia membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan.

Namun di situlah letak nilai perjuangan seorang hamba. Ketika seseorang tetap berusaha menjaga kebaikan meskipun godaan datang silih berganti, maka di situlah kualitas iman sedang diuji dan diperkuat.

Semoga Ramadan yang telah kita lalui tidak berhenti sebagai kenangan spiritual semata, tetapi menjadi awal dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang lebih baik.

Dengan menjaga istiqamah, kita berharap cahaya Ramadan tetap hidup dalam hati, menerangi langkah kita sepanjang tahun hingga bertemu kembali dengan bulan suci, bulan penuh berkah, rahmat, dan maghfirah itu di tahun depan. Wallahu a’lam.[*]