
Petikan Hikmah Ramadan (21)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
KINI, Ramadan memasuki fase ketiga, sepuluh malam terakhir. Fase ini disebut paling hening sekaligus paling dalam.
Jika hari-hari sebelumnya diwarnai oleh kesibukan menata ibadah dan memperbanyak amal, maka sepuluh malam terakhir menghadirkan ajakan untuk lebih tenang, menyepi bersama Allah.
Di sinilah i’tikaf menemukan maknanya, bukan sekadar berdiam di masjid, tetapi berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia untuk menemukan kembali makna terdalam dari kehidupan.
Dalam kehidupan modern, manusia jarang benar-benar berhenti. Pikiran terus bekerja, gawai terus berbunyi, agenda terus menumpuk. Bahkan, ketika tubuh beristirahat, jiwa sering tetap gelisah.
I’tikaf menjadi momen langka untuk memutus sementara keterikatan itu. Ia adalah jeda yang disengaja, ruang sunyi yang dipilih, agar hati dapat kembali mendengar suara nurani.
Rasulullah Saw., memberikan teladan dengan senantiasa beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Praktik ini bukan tradisi tanpa makna, tetapi ikhtiar mendekatkan diri secara total kepada Allah, terutama dalam rangka mencari kemuliaan malam Lailatul Qadr.
I’tikaf mengajarkan bahwa kedekatan spiritual membutuhkan kesungguhan dan pengorbanan waktu. Ia bukan pelarian dari tanggung jawab, melainkan penguatan ruhani agar tanggung jawab dijalani dengan lebih bermakna.
Al-Qur’an sendiri menyinggung praktik i’tikaf dalam konteks kesungguhan beribadah di masjid. Ini menunjukkan bahwa menyepi dalam bingkai ibadah adalah bagian dari ajaran yang memiliki legitimasi syariat.
Dalam keheningan masjid, di antara lantunan ayat dan doa yang lirih, manusia belajar menghadirkan Allah sebagai pusat kesadarannya.
I’tikaf tidak boleh dipahami sebagai aktivitas fisik berdiam diri belaka. Ia adalah proses penataan ulang hati.
Saat I’tikaf, kita mengevaluasi perjalanan hidup, sudahkah ibadah kita berkualitas, sudahkah hubungan dengan sesama terjaga, sudahkah waktu yang Allah beri dimanfaatkan dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan ini sering tenggelam dalam rutinitas, dan i’tikaf menghadirkannya kembali ke permukaan.
Dalam konteks sosial, i’tikaf juga mengajarkan keseimbangan. Peradaban yang sehat bukan hanya dibangun oleh kerja keras dan produktivitas, tetapi juga oleh refleksi dan kedalaman makna.
Orang-orang yang kuat secara spiritual akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, lebih tenang dalam menghadapi konflik, dan lebih jernih dalam melihat persoalan.
Menyepi sejenak justru membuat kita lebih siap kembali ke tengah masyarakat.
Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah kesempatan yang tidak selalu terulang. Ada kemungkinan ini adalah Ramadan terakhir dalam hidup kita.
Kesadaran ini seharusnya melahirkan kesungguhan. Tidak semua orang mampu menyediakan waktu untuk i’tikaf secara penuh, tetapi setiap orang dapat mengambil ruhnya, yakni memperbanyak dzikir, memperdalam doa, mengurangi distraksi, dan meluangkan waktu untuk merenung.
I’tikaf adalah perjalanan ke dalam diri. Di sana kita belajar bahwa makna ‘hidup’ tidak ditemukan dalam keramaian, tetapi dalam kedekatan dengan Allah.
Dalam sujud yang panjang dan doa yang tulus, kita menyadari betapa kecilnya diri ini dan betapa luasnya rahmat-Nya.
Maka, sejatinya kita memanfaatkan fase akhir Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Jika mampu, baiknya kita hadir di masjid untuk menyepi bersama Allah.
Jika tidak, ciptakan ruang sunyi di rumah untuk mendekatkan diri. Biarkan hati berbicara, biarkan air mata mengalir, dan biarkan jiwa menemukan kembali maknanya.
Karena, dari keheningan itulah sering lahir keputusan besar, perubahan mendalam, dan tekad baru untuk hidup lebih bermakna. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan