MAKASSAR — Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Konferensi Wilayah (Konferwil) XVI di Asrama Haji Sudiang, Makassar, 13–15 Februari 2026.

Forum lima tahunan ini mengusung tema “Digdaya Ansor Menuju Kedaulatan Pangan”, menandai arah konsolidasi organisasi sekaligus penegasan peran kader dalam menjawab isu strategis nasional, khususnya ketahanan pangan.

Konferwil XVI dibuka secara resmi oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang diwakili Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sulsel, Andi Munawir, mewakili Gubernur Sulsel.

Dalam sambutannya, Andi Munawir menekankan pentingnya peran pemuda, khususnya GP Ansor, dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat persatuan bangsa.

“Kehadiran GP Ansor memiliki peran penting. Karena pemuda merupakan pemegang estafet bangsa dan aset negara. Oleh karena itu, GP Ansor diharapkan mampu memberikan harapan persatuan, menangkal radikalisme dan ekstremisme, serta meningkatkan kualitas masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kader Ansor harus adaptif menghadapi dinamika sosial yang terus berubah, memiliki visi jelas, serta mampu menjawab tantangan zaman dengan gagasan yang solutif.

Turut hadir dalam pembukaan, Wakil Ketua Umum GP Ansor Pusat, Muh Mabrur.

Ia menegaskan, Konferwil bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan momentum memperkuat soliditas dan kesehatan organisasi.

“Konferwil ini tentu mengedepankan guyup kekeluargaan. Konferensi adalah ajang pergantian kepemimpinan, tapi alhamdulillah kita masih bercanda-bercanda meskipun teman-teman punya referensi masing-masing terkait pemilihan,” ujarnya.

Mabrur mengungkapkan, GP Ansor Sulsel saat ini masuk kategori akreditasi A di tingkat nasional.

“Di pimpinan pusat, semua tingkatan memiliki akreditasi terkait sejauh mana sehat dan suksesnya organisasi itu sendiri. GP Ansor Sulsel masuk akreditasi A,” katanya.

Menurutnya, perkembangan organisasi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Jika sebelumnya ada kader yang kurang percaya diri mengenakan atribut organisasi, kini kebanggaan terhadap Ansor justru semakin menguat.

“Dulu beberapa tahun lalu ada anggota yang sempat malu mengenakan atribut GP Ansor. Sekarang justru sahabat-sahabat merasa bangga, bahkan yang bukan kader ingin menjadi bagian dari Ansor,” ungkapnya.

Ia menilai penerimaan publik terhadap Ansor semakin luas karena orientasi pengabdian organisasi yang nyata di tengah masyarakat.

“Artinya GP Ansor sudah sangat diterima masyarakat karena orientasinya bagaimana bisa bermanfaat, bukan hanya di internal saja,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua GP Ansor Sulsel, Rusdi Idrus, menjelaskan bahwa pemilihan tema kedaulatan pangan merupakan turunan dari program prioritas pimpinan pusat yang harus disinergikan hingga ke tingkat cabang.

“Tema ini adalah turunan dari program prioritas pimpinan pusat, sehingga harus disinergikan mulai dari pimpinan pusat, wilayah hingga cabang. Gagasan besar itu harus terimplementasi sampai ke bawah,” ujarnya.

Rusdi menilai isu ketahanan pangan merupakan tantangan global yang perlu diantisipasi sejak dini. Organisasi kepemudaan, kata dia, harus memiliki kesiapan menghadapi potensi krisis pangan di masa depan.

“Kita harus menyiapkan diri ketika nanti menghadapi krisis pangan. Dunia bergerak cepat dan isu pangan menjadi salah satu yang diprediksi krusial. Jangan sampai kita kaget ketika krisis itu datang,” tegasnya. (*)