
Petikan Hikmah Ramadan (47)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar
MEMULAI sebuah kebaikan terasa begitu mudah, apalagi jika didorong oleh semangat yang menggelora, seperti di awal Ramadan. Masjid penuh, tilawah menggema, dan tangan ringan bersedekah.
Namun, mempertahankan kebaikan itu hingga akhir Ramadan, bahkan setelahnya, adalah ujian karakter yang sesungguhnya.
Di sinilah nilai sejati seorang hamba diuji, bukan pada awal langkahnya, tetapi pada keteguhan langkahnya. Konsistensi atau istiqamah adalah permata langka di tengah kehidupan yang serba instan dan cepat berubah.
Bukan Karena Besar atau Banyaknya Amal
Dalam pandangan Islam, nilai amal tidak semata diukur dari besar kecilnya, tetapi dari kesinambungannya.
Rasulullah Saw. bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa Allah lebih mencintai hamba yang setia dalam amal kecil yang dilakukan secara terus-menerus, dibandingkan dengan amal besar yang hanya sesekali hadir.
Konsistensi adalah cermin kejujuran iman. Kita beribadah bukan karena suasana, melainkan karena kebutuhan ruhani yang mendalam.
Allah Swt., memberikan kabar gembira bagi mereka yang istiqamah. Dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu …” (QS. Fussilat: 30).
Ayat ini menunjukkan bahwa istiqamah bukan hanya menghadirkan ketenangan di dunia, tetapi juga jaminan pertolongan dan kebahagiaan di akhirat.
Ramadan sejatinya adalah madrasah yang melatih konsistensi. Selama 30 hari, kita dibiasakan bangun sahur, menahan diri, memperbanyak ibadah, dan menjaga lisan.
Semua itu bukan sekadar rutinitas temporer, tetapi latihan agar kebaikan menjadi karakter yang melekat dalam diri. Sayangnya, tidak sedikit yang kembali pada kebiasaan lama setelah Ramadan berlalu, seakan-akan semua latihan itu hanya “seragam musiman” yang dilepas begitu saja.
Berikut ini sebuah kisah inspiratif tentang seorang kakek yang selama puluhan tahun menyapu jalan menuju masjid, setiap hari, tanpa pernah meminta imbalan.
Ia melakukannya dalam diam, tanpa sorotan, tanpa pujian. Ketika suatu hari ia jatuh sakit dan tidak lagi terlihat, para jamaah merasakan kehilangan yang mendalam.
Bukan semata karena jalan menjadi kotor, tetapi karena hilangnya satu teladan tentang ketekunan dalam kebaikan.
Amal kecil yang dilakukan terus-menerus ternyata mampu meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam daripada kebaikan besar yang hanya sesekali.
Konsistensi memang tidak mudah. Ia menuntut kesabaran, melawan rasa bosan, dan menaklukkan godaan untuk berhenti. Namun justru karena itulah ia menjadi sangat mulia di sisi Allah.
Lebih baik menjaga dua rakaat salat sunnah setiap hari daripada sesekali melakukan ibadah besar lalu meninggalkannya.
Lebih baik membaca satu halaman Al-Qur’an setiap hari daripada menunggu waktu luang, membaca beberapa juz sekaligus, yang tak kunjung datang.
Mari kita ikat amal-amal kecil kita dengan tali istiqamah. Jangan remehkan langkah kecil yang terus berjalan, karena di situlah letak kemuliaan yang sebenarnya.
Biarlah kita dikenal di langit bukan karena lonjakan amal yang sesaat, tetapi karena keteguhan langkah yang tidak pernah putus menuju ridha-Nya. _Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan