ZATERA.ID | GOWA  – Ratusan jemaah An-Nadzir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, melaksanakan Shalat Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026).

Pelaksanaan ini berlangsung lebih awal dibandingkan dengan penetapan pemerintah yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

 

Shalat Id dilaksanakan di Masjid Baitul Muqaddis An-Nadzir yang berlokasi di Kelurahan Mawang, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa.

Ibadah tersebut diikuti ratusan jemaah yang datang dari berbagai daerah, di antaranya Bone, Palopo, Makassar, dan Gowa.

Mereka meyakini bahwa bulan suci Ramadan telah berakhir pada Kamis, 19 Maret 2026.

Suasana pelaksanaan ibadah berlangsung khusyuk dan penuh kekhidmatan, mencerminkan rasa syukur atas selesainya rangkaian ibadah puasa Ramadan.

Pimpinan An-Nadzir, Samiruddin Pademmui, menjelaskan bahwa penentuan awal dan akhir bulan Hijriah dilakukan melalui metode pengamatan tersendiri.

Selain memantau fase bulan sejak awal Ramadan, pihaknya juga melakukan pengamatan intensif pada malam ke-14, 15, dan 16 hingga menjelang akhir bulan.

“Selain memperhatikan fenomena alam, kami juga mengamati posisi dan bayangan bulan. Di pertengahan hingga akhir Ramadan, pengamatan dilakukan lebih intensif untuk memastikan kapan bulan berakhir,” ujarnya.

Ia menambahkan, An-Nadzir menggunakan metode yang memadukan hisab, rukyat, serta fenomena alam sebagai dasar dalam menentukan awal dan akhir bulan Hijriah.

Sejumlah tanda-tanda alam turut dijadikan indikator, seperti gerhana bulan, hujan rintik-rintik, petir, angin kencang, hingga pasang puncak air laut.

Metode tradisional ini juga dipadukan dengan teknologi melalui aplikasi berbasis perhitungan pergerakan matahari dan bulan guna memperkuat hasil pengamatan.

Dalam khutbah Idulfitri, Samiruddin mengajak seluruh jemaah untuk tetap istiqamah dalam keimanan, memperbaiki akhlak, serta mempererat ukhuwah Islamiyah sebagai fondasi persatuan.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersamaan dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, khususnya dalam penentuan hari besar keagamaan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri oleh jemaah An-Nadzir kembali menjadi fenomena tersendiri di tengah masyarakat.

Perbedaan ini terjadi karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan berbeda dengan pemerintah. Meski demikian, keduanya tetap berangkat dari dalil yang sama dalam syariat Islam.

Laporan: Pen