
Petikan Hikmah Ramadan (26)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
MALAM-malam terakhir Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih hening, langit malam seakan lebih dekat, dan hati manusia menjadi lebih peka terhadap bisikan nurani.
Di bawah cahaya rembulan akhir Ramadan, banyak hati yang tersentuh untuk kembali menatap diri sendiri, mengingat dosa, menyesali kesalahan, dan memohon ampunan kepada Allah.
Air mata yang jatuh di malam hari menjadi bahasa yang paling jujur dari seorang hamba. Ia tidak lagi disibukkan oleh hiruk-pikuk dunia, tidak pula terhalang oleh kesibukan sehari-hari.
Di keheningan malam, seseorang berdiri di hadapan Tuhannya dengan hati yang terbuka. Ia mengingat betapa banyak nikmat yang telah diterima, sementara dalam waktu yang bersamaan, ia juga menyadari betapa sering ia lalai dan tergelincir dalam kesalahan.
Menangisi Dosa di Malam–Malam Terakhir
Malam-malam terakhir Ramadan memang menjadi waktu yang sangat istimewa. Rasulullah Saw., memberi teladan dengan meningkatkan kesungguhan ibadah pada sepuluh malam terakhir.
Bukan hanya memperbanyak shalat dan doa, tetapi juga menghidupkan malam dengan zikir dan munajat yang penuh kerendahan hati.
Semua itu menunjukkan bahwa penghujung Ramadan adalah momentum untuk memperdalam hubungan dengan Allah.
Di malam-malam terakhir ini, kita menangisi dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Menangisi dosa bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda hidupnya hati.
Hati yang masih mampu menyesali kesalahan adalah hati yang belum mati. Ia masih memiliki kesadaran untuk kembali kepada Allah, memohon ampunan, dan berjanji untuk memperbaiki diri.
Sering kali manusia menunda taubat karena merasa masih memiliki waktu yang panjang. Padahal, tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu berapa lama kesempatan hidup yang masih diberikan kepadanya.
Karena itulah, Ramadan datang sebagai panggilan untuk kembali, kembali kepada Allah dengan hati yang tulus dan penuh harapan.
Di bawah cahaya rembulan akhir Ramadan, kita diajak untuk menundukkan ego dan mengakui kelemahan diri. Tidak ada manusia yang benar-benar bersih dari dosa.
Namun Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Pintu ampunan-Nya selalu terbuka bagi siapa saja yang datang dengan penyesalan yang tulus.
Maka jangan biarkan malam-malam terakhir Ramadan berlalu begitu saja. Gunakan setiap kesempatan untuk berdoa, berzikir, dan memohon ampunan.
Jika air mata mengalir saat bermunajat kepada Allah, biarkan ia menjadi saksi bahwa kita pernah menyesali dosa-dosa yang telah lalu.
Semoga tangisan di penghujung Ramadan bukan hanya menjadi luapan emosi sesaat, tetapi menjadi awal dari perubahan yang lebih baik.
Sejatinya, hati yang pernah menangisi dosa, lahir tekad untuk menjalani kehidupan dengan lebih bersih, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan