
Petikan Hikmah Ramadan (40)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
SELAMA sebulan penuh di bulan Ramadan, ibadah terasa begitu ringan dan mengalir. Atmosfer spiritual tercipta secara kolektif. Masjid-masjid penuh, lantunan Al-Qur’an terdengar di setiap sudut, dan semua orang berlomba-lomba dalam kebaikan.
Lingkungan yang suportif ini seolah menjadi “angin buritan” yang mendorong bahtera ibadah kita melaju kencang.
Namun, ketika Ramadan berlalu dan gempita kesalehan massal itu mereda, sebuah pertanyaan fundamental muncul ke permukaan, apakah kita tetap menjadi pribadi yang sama ketika tidak ada lagi mata yang melihat dan tidak ada lagi suasana yang mengingatkan?
Memurnikan Ketaatan sebagai Inti Ibadah
Esensi dari setiap penghambaan bukanlah pada kemegahan ritualnya, melainkan pada kemurnian niat di dalamnya. Allah Swt., berfirman:
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Ayat ini menegaskan bahwa keikhlasan adalah ruh dari setiap amal. Tanpa keikhlasan, ibadah hanyalah gerakan tanpa makna dan sedekah hanyalah perpindahan harta tanpa berkah.
Ramadan memang melatih kita untuk ikhlas melalui puasa, ibadah yang paling rahasia antara hamba dan Penciptanya.
Namun, ujian keikhlasan yang sesungguhnya justru baru dimulai di bulan-bulan “biasa”, saat ketaatan kita tidak lagi mendapatkan tepuk tangan atau dukungan sosial.
Standar Penilaian Ilahi: Hati dan Amal
Di dunia yang serba visual ini, manusia sering kali terjebak pada penilaian lahiriah. Namun, Rasulullah SAW., meluruskan orientasi kita melalui sabdanya:
”Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).
Pesan ini menjadi pengingat bahwa di sisi Allah, popularitas amal tidaklah relevan.
Para ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam urusan ini. Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama besar, bahkan mengakui betapa sulitnya meluruskan niat.
Baginya, niat adalah sesuatu yang sangat dinamis; ia bisa berubah dalam sekejap karena bisikan pujian atau keinginan untuk diakui.
Oleh karena itu, menjaga keikhlasan adalah perjuangan seumur hidup yang harus diperbaharui setiap hari.
Ada sebuah kisah inspiratif tentang seorang hamba Allah yang rajin bersedekah secara sembunyi-sembunyi.
Ia merasa sangat tidak nyaman, bahkan merasa terancam, jika amalnya diketahui oleh orang lain.
Saat ditanya mengapa ia begitu menutup rapat kebaikannya, ia menjawab dengan penuh ketulusan, “Aku takut jika manusia mengetahuinya, maka aku kehilangan nilai yang jauh lebih besar di sisi Allah.”
Kisah ini mengajarkan kita bahwa hari-hari biasa —hari di mana tidak ada sorotan kamera, tidak ada panggung pidato, dan tidak ada pujian publik— adalah panggung keikhlasan yang sesungguhnya.
Di saat itulah kualitas iman kita diuji secara telanjang. Berbuat baik saat semua orang melakukannya adalah hal biasa, namun tetap teguh dalam kebaikan saat orang lain mulai lalai adalah keajaiban iman.
Jangan pernah berhenti menanam benih kebaikan hanya karena tidak ada orang yang melihat atau memujinya.
Justru di dalam kesenyapan itulah, nilai sebuah amal mencapai kemurnian tertingginya. Keikhlasan sejati tidak lahir dari keriuhan dan gegap gempita pengakuan manusia.
Ia adalah tanaman surgawi yang hanya bisa tumbuh subur dalam kesunyian hati yang merasa cukup dengan penilaian Allah semata.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa satu rakaat yang dikerjakan dengan tulus di tengah malam yang sunyi, jauh lebih berharga daripada seribu langkah yang dipamerkan demi sebuah citra.
Karena pada hari perhitungan nanti, yang tersisa hanyalah apa yang kita kerjakan dengan tulus karena-Nya. _Wallahu a’lam._ [*]




Tinggalkan Balasan