Petikan Hikmah Ramadan (48)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar

PUASA adalah ibadah yang paling sunyi, paling tersembunyi, dan paling jujur. Seseorang bisa saja makan atau minum di tempat yang tak terlihat, lalu kembali ke hadapan orang lain dengan wajah seolah-olah masih berpuasa.

Tidak ada manusia yang mampu memastikan kejujuran itu. Namun, seorang mukmin memilih untuk tetap menahan diri, bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena yakin bahwa Allah Maha Melihat.

Di sinilah letak latihan kejujuran yang paling murni. Pertanyaannya, setelah Ramadan berlalu dan “pengawasan spiritual” itu terasa berkurang, apakah kejujuran itu tetap hidup dalam diri kita?

Kejujuran (as-shidqu) adalah fondasi dari seluruh bangunan akhlak.

Allah Swt., berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119).

Ayat ini bukan sekadar perintah moral, tetapi juga arah hidup. Kejujuran adalah jalan yang harus dipilih dalam setiap kondisi.

Rasulullah Saw., pun menegaskan dalam sabdanya: “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Dan sesungguhnya seseorang yang selalu jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (shiddiq). Adapun dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ramadan telah melatih kita untuk jujur, jujur kepada diri sendiri dan jujur kepada Allah.

Kita belajar menahan lapar bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena kita memilih untuk taat.

Namun, pasca Ramadan, kejujuran ini harus naik ke level berikutnya yakni kejujuran sosial.

Ia harus hadir dalam setiap aspek kehidupa; dalam pekerjaan, dalam interaksi sosial, dalam amanah jabatan, bahkan dalam hal-hal kecil yang sering dianggap sepele.

Seorang dosen, misalnya, diuji kejujurannya dalam melaporkan kinerja akademik, seorang pedagang diuji dalam timbangan, dan seorang pemimpin diuji dalam keputusan yang diambil.

Kejujuran menjadikan seseorang merdeka, karena ia tidak terbebani oleh kepalsuan yang harus terus ditutupi.

Tidak Tergantung pada Pengawasan Manusia

Sebuah kisah klasik menggambarkan betapa tingginya nilai kejujuran dalam Islam. Khalifah Umar bin Khattab pernah bertemu dengan seorang anak gembala di padang pasir.

Untuk mengujinya, Umar meminta agar ia menjual seekor domba dari gembalaannya dan mengatakan kepada tuannya bahwa domba itu dimakan serigala.

Namun, anak itu menjawab dengan kalimat yang mengguncang: “Fa ainallah?” “Lalu di mana Allah?”

Kalimat sederhana ini menunjukkan bahwa kejujuran sejati tidak bergantung pada pengawasan manusia, tetapi pada kesadaran akan pengawasan Allah.

Inilah buah dari iman yang hidup, dan inilah pula esensi dari puasa yang berhasil.

Kejujuran adalah mahkota seorang mukmin. Ia memperindah akhlak dan meninggikan derajat.

Setelah sebulan penuh dilatih dalam kejujuran melalui ibadah puasa, jangan biarkan lisan kita kembali akrab dengan dusta, atau perilaku kita ternodai oleh kepalsuan. Jadilah pribadi yang selaras antara kata dan perbuatan.

Memang, kejujuran terkadang menuntut pengorbanan dan mungkin membuat kita kehilangan keuntungan duniawi sesaat. Namun, ia menghadirkan ketenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.

Mari kita melangkah keluar dari Ramadan sebagai manusia yang membawa obor kejujuran ke mana pun kita pergi.

Sebab, sejatinya kejujuran bukan hanya nilai moral, tetapi jalan paling lurus menuju ridha Allah Swt. Wallahu a’lam. [*]