
Petikan Hikmah Ramadan (44)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
DI ERA media sosial hari ini, kita sering terjebak dalam perlombaan “memiliki” yang tidak pernah usai. Kita sibuk melihat apa yang ada di piring orang lain hingga lupa mengecap nikmat di piring sendiri.
Padahal, kebahagiaan sejati tidak datang dari seberapa banyak yang kita genggam, melainkan seberapa dalam kita mensyukurinya.
Ramadan yang baru saja berlalu telah mengajarkan kepada kita bahwa seteguk air saat berbuka bisa terasa lebih nikmat daripada jamuan mewah jika dibumbui dengan syukur.
Jika kita menjadikan syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sebuah gaya hidup, maka tentu Allah Swt., akan terus mengucurkan nikmat-Nya kepada kita.
Syukur adalah kunci pembuka pintu ditambahkan nikmat oleh Allah Swt. Hal itu sudah ditegaskan Allah Swt., dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7).
Syukur melibatkan tiga dimensi, yakni; pengakuan dalam hati, ucapan lisan (Alhamdulillah), dan pembuktian melalui amal perbuatan.
Rasulullah Saw., meski telah dijamin masuk surga, tetap melakukan salat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya oleh istrinya, Aisyah, mengapa beliau masih melakukan hal itu. Beliau menjawab,
“Tidakkah patut aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari & Muslim).
Ini mengajarkan bahwa syukur adalah motor penggerak untuk terus berbuat baik, bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Ada kisah tentang seorang tukang sol sepatu yang hidup sangat sederhana namun wajahnya selalu berseri.
Ketika ditanya rahasianya, ia menjawab bahwa setiap pagi ia berterima kasih kepada Allah karena masih bisa bernapas, melihat matahari, dan memiliki tangan untuk bekerja.
Ia tidak menunggu punya toko besar untuk bersyukur. Bagi dia, setiap pelanggan yang datang adalah rezeki, dan setiap pelanggan yang tidak datang adalah waktu istirahat yang diberikan Allah.
Gaya hidup syukurnya membuat ia merasa sebagai orang terkaya di dunia, melampaui para bangsawan yang selalu merasa kurang.
Menjadikan syukur sebagai gaya hidup berarti kita berhenti membandingkan nasib dan mulai menghitung berkat.
Sejatinya, pasca Ramadan ini, kita terus melatih mata kita untuk melihat kelebihan dalam kekurangan, dan hati kita untuk merasa cukup dalam kesederhanaan.
Syukur adalah bentuk ibadah yang paling elegan. Saat kita bersyukur, dunia yang sempit akan terasa luas, dan hati yang gundah akan menemukan kedamaiannya.
Hiduplah dengan syukur, maka Anda akan menemukan bahwa hidup ini sesungguhnya sudah lebih dari cukup. Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan