Petikan Hikmah Ramadhan (27)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

BEBERAPA hari lagi, Ramadan akan berakhir. Bulan yang penuh cahaya itu akan kembali lagi tahun depan. Kita berharap, kita akan bertemu saat Ramadan datang kembali.

Itulah sebabnya, sejak Ramadan pergi, doa selalu dipanjatkan agar dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun depan.

“Allahumma ballighnaa Ramadhan”, “Yaa Allah, pertemukan kami dengan bulan Ramadan”.

Ramadan adalah bulan yang penuh cahaya. Cahaya iman, cahaya ibadah, dan cahaya kebaikan, menyinari seluruh kehidupan kaum Muslimin sepanjang bulan suci ini.

Masjid-masjid menjadi lebih hidup, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an terdengar di berbagai tempat, dan tangan-tangan kebaikan lebih mudah tergerak untuk membantu sesama.

Sebuah pertanyaan penting yang harus dijawab oleh diri kita masing-masing, apakah setelah Ramadan berakhir cahaya itu akan tetap menyala dalam kehidupan kita? Ataukah justeru meredup seiring berlalunya Ramadan?

Sesungguhnya Ramadan tidak hanya hadir untuk dirayakan selama satu bulan. Ia datang sebagai madrasah ruhani yang melatih manusia agar mampu menjalani kehidupan dengan nilai-nilai ketakwaan.

Puasa melatih kesabaran dan pengendalian diri. Shalat malam menumbuhkan kedekatan dengan Allah. Tilawah Al-Qur’an menghidupkan hati. Sedekah dan zakat menumbuhkan empati sosial.

Semua Amalan Menjadi Bekal Sebelas Bulan Berikutnya

Cahaya Ramadan akan tetap hidup jika kita berusaha menjaga kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan suci ini.

Mungkin tidak semua ibadah bisa dilakukan dengan intensitas yang sama seperti di bulan Ramadan, tetapi semangatnya harus tetap terjaga.

Membaca Al-Qur’an secara rutin, menjaga shalat berjamaah, memperbanyak sedekah, serta menjaga lisan dan akhlak adalah beberapa cara sederhana untuk merawat cahaya tersebut.

Rasulullah Saw., memberikan teladan tentang pentingnya konsistensi dalam beramal.

Beliau mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.

Pesan ini mengingatkan kita bahwa kualitas ibadah tidak hanya diukur dari besarnya amal, tetapi juga dari ketekunan dalam menjaganya.

Menjaga cahaya Ramadan juga berarti menjaga kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap langkah kehidupan kita. Kesadaran inilah yang menjadi inti dari ketakwaan.

Ketika seseorang merasa selalu berada dalam pengawasan Allah, ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih jujur dalam bekerja, dan lebih bijak dalam memperlakukan orang lain.

Pada akhirnya, Ramadan bukanlah sekadar bulan yang datang dan pergi setiap tahun. Ia adalah momentum pembaruan spiritual yang seharusnya meninggalkan jejak dalam kehidupan seorang Muslim.

Jika cahaya Ramadan tetap hidup dalam hati kita, dalam ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial, maka sesungguhnya Ramadan tidak benar-benar berakhir.

Ia akan terus menyinari langkah kita sepanjang tahun, hingga kita dipertemukan kembali dengan bulan suci itu di masa yang akan datang. Wallahu a’lam.[*]