
Petikan Hikmah Ramadan (35)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
RAMADAN telah berlalu, tetapi satu pertanyaan penting masih tersisa, apakah yang ikut pergi hanya waktunya, atau juga semangat iman yang sempat menyala begitu terang di dalam dada?
Hari-hari kini kembali berjalan seperti biasa, masjid mulai lengang, lantunan tilawah tak lagi seramai kemarin.
Namun, justru di titik inilah keimanan kita diuji, bukan saat suasana mendukung, tetapi saat kita harus berjalan sendiri dalam menjaga nyala itu tetap hidup.
Allah Swt. mengingatkan dalam firman-Nya:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”
(QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini menegaskan bahwa ibadah tidak pernah mengenal musim. Ia bukan aktivitas temporer yang hanya hidup di bulan Ramadan, melainkan komitmen sepanjang hayat.
Ramadan sejatinya adalah madrasah, tempat kita dilatih untuk disiplin, ikhlas, dan dekat dengan Allah.
Maka Syawal dan bulan-bulan setelahnya adalah ruang implementasi, apakah nilai-nilai itu benar-benar meresap atau hanya singgah sesaat.
Rasulullah Saw., juga memberikan tuntunan yang sangat mendalam:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah pada besarnya amal yang dilakukan sesaat, tetapi pada konsistensinya dalam jangka panjang.
Inilah esensi istiqamah, menjaga ritme ibadah, meski tidak lagi dalam suasana kolektif seperti Ramadan.
Para ulama salaf memberikan teladan yang sangat menggetarkan.
Diriwayatkan bahwa mereka berdoa selama enam bulan setelah Ramadan agar amal mereka diterima, dan enam bulan berikutnya agar dipertemukan kembali dengan Ramadan.
Ini menunjukkan bahwa bagi mereka, Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi pusat orbit kehidupan spiritual.
Ada pula kisah inspiratif tentang seorang tabi’in yang tetap menjaga kebiasaan qiyamul lail setelah Ramadan.
Ketika ditanya mengapa ia tidak mengurangi intensitas ibadahnya, ia menjawab, “Jika aku hanya beribadah karena Ramadan, maka aku telah menjadikan Ramadan sebagai tujuan, bukan Allah.”
Sebuah pernyataan yang menampar kesadaran kita. Ibadah sejati tidak bergantung pada waktu, tetapi pada cinta kepada Sang Pencipta.
Hidupkan Cahaya Ramadan Walau Sederhana
Hari ini, mungkin kita tidak lagi mampu membaca Al-Qur’an sebanyak di bulan Ramadan, atau berdiri lama dalam shalat malam.
Namun, menjaga satu halaman tilawah, dua rakaat tahajud, atau sedekah yang sederhana, setidaknya menjadi tanda bahwa cahaya itu masih hidup.
Jangan remehkan amal kecil yang konsisten, karena justru di situlah letak keberkahan yang sering tersembunyi.
Maka, sejatinya Syawal bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pembuktian. Apakah kita termasuk orang-orang yang hanya “beribadah di musim Ramadan”, atau kita menjadikan Ramadan sebagai titik balik kehidupan.
Semoga semua yang telah kita bangun di bulan Ramadan tidak runtuh di bulan-bulan berikutnya. Dan, nyala iman yang sempat terang itu tetap kita jaga, meski perlahan, sederhana, tetapi istiqamah. Wallahu a’lam.[*]





Tinggalkan Balasan