Petikan Hikmah Ramadan (24)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

RAMADAN hampir usai. Pertanyaan penting yang perlu diajukan kepada diri kita masing-masing, sudahkah puasa kita benar-benar sempurna?

Pertanyaan ini penting untuk diperhatikan karena menyangkut keberhasilan kita setelah sebulan bersama bulan Ramadan.

Selama sebulan penuh kita menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga maghrib. Kita juga memperbanyak tilawah, menghadiri tarawih, dan memperpanjang doa.

Maka sejatinya puasa kita telah sempurna. Namun, kesempurnaan puasa tidak hanya diukur dari apa yang kita tahan, melainkan dari apa yang kita berikan.

Puasa adalah madrasah pengendalian diri. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan keikhlasan. Lebih dari itu, puasa juga melatih empati. Saat perut kosong dan tenggorokan kering, kita merasakan secuil dari realitas hidup mereka yang setiap hari bergelut dengan keterbatasan.

Dari rasa itulah sejatinya lahir kepedulian yang tulus.
Rasulullah Saw., dikenal sebagai pribadi yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadan.

Keteladanan ini menunjukkan bahwa ibadah vertikal selalu berdampingan dengan kepedulian horizontal. Puasa yang hanya berhenti pada ritual pribadi berisiko kehilangan ruh sosialnya.

Padahal Islam adalah agama yang memadukan keduanya secara harmonis.
Allah berfirman bahwa kebajikan bukan sekadar menghadapkan wajah ke timur atau ke barat, tetapi juga memberi harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, dan mereka yang membutuhkan.

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta…(QS Al-baqarah : 177)

Ayat ini menegaskan bahwa kesalehan memiliki dimensi sosial yang nyata. Puasa yang mendekatkan diri kepada Allah semestinya juga mendekatkan kita kepada sesama.

Akhir Ramadan Saat Terbaik Melakukan Evaluasi

Di tengah realitas sosial hari ini, dimana ketimpangan ekonomi, kesulitan hidup, dan berbagai beban yang menimpa sebagian saudara kita, kepedulian bukan lagi soal pilihan, melainkan sudah menjadii kebutuhan.

Ramadan menghadirkan momentum kolektif untuk berbagi, melalui sedekah, infak, zakat, atau sekadar membantu dengan tenaga dan perhatian. Nilainya bukan hanya pada jumlah yang diberikan, tetapi pada ketulusan yang menyertainya.

Kepedulian juga berarti menjaga lisan dan sikap. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari menyakiti orang lain. Betapa banyak pahala puasa yang terkikis karena kata-kata kasar, prasangka, atau sikap meremehkan.

Menyempurnakan puasa berarti menghadirkan akhlak yang lembut dan penuh empati dalam setiap interaksi.

Menjelang akhir Ramadan inilah saat terbaik untuk melakukan evaluasi, apakah puasa kita telah melahirkan kepekaan sosial?

Apakah kita menjadi lebih mudah berbagi, lebih ringan membantu, dan lebih peka terhadap penderitaan orang lain?

Jika jawabannya belum, maka masih ada waktu untuk memperbaiki.

Idul Fitri yang akan datang bukan sekadar perayaan, tetapi simbol kembali kepada fitrah. Fitrah manusia adalah suci, peduli, dan penuh kasih.

Puasa yang sempurna adalah puasa yang mengembalikan kita pada fitrah tersebut, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara sosial.

Oleh karena itu, mari sempurnakan Ramadan dengan kepedulian yang nyata. Ringankan tangan untuk berbagi, lembutkan hati untuk memahami, dan lapangkan jiwa untuk memaafkan.

Dengan begitu, puasa kita tidak hanya menguatkan hubungan dengan Allah, tetapi juga mempererat ikatan dengan sesama.

Karena, pada akhirnya keberhasilan Ramadan bukan hanya terlihat dari seberapa banyak ibadah yang kita lakukan, tetapi seberapa dalam kepedulian yang tumbuh dalam hati kita. Wallahua’lam.[*]