
By. Rahmat Mustafa
Pajak sering terasa ribet dan sulit dimengerti. Padahal bisa dipahami dengan perumpamaan—arisan.
Dalam arisan, setiap orang menyetor uang secara rutin. Kemudian dana setoran dikumpulkan dan dikelola agar manfaatnya bisa dirasakan bersama.
Tidak semua orang menerima uang pada saat yang sama. Tetapi semua percaya bahwa giliran dan manfaat itu akan datang.
Begitu pula pajak. Setiap warga menyumbang sesuai kemampuan dan perannya dalam kehidupan ekonomi.
Ada yang menyetor lewat belanja, ada yang lewat usaha, ada yang lewat gaji atau keuntungan perusahaan.
Uang tidak disimpan untuk satu orang, diputar untuk kepentingan bersama.
Kita mungkin tidak menerima “amplop” pajak secara langsung, tetapi kita merasakannya manfaatnya.
Misalnya, saat melintasi jalan, menyekolahkan anak, berobat, atau saat negara hadir membantu di masa sulit.
Dalam arisan, ada satu hal yang menentukan yaitu kepercayaan kepada pengelola.
Pajak pun demikian. Negara berperan sebagai pengelola arisan besar bernama Indonesia.
Tugasnya selain mengumpulkan, juga memastikan uang itu dikelola dengan jujur, adil, dan kembali kepada kebutuhan bersama.
Ketika pengelolaan itu transparan, warga akan lebih ikhlas menyetor. Saat amanah goyah, kepercayaan pun ikut goyah.
Maka pajak sejatinya bukan beban, itu kesepakatan hidup bersama.
Seperti arisan, kita patungan hari ini bukan hanya untuk diri sendiri. Juga untuk kehidupan bersama agar tetap berjalan.
Di sanalah pajak menentukan arah masa depan bersama.
𝙨𝙚𝙠𝙞𝙖𝙣𝙂**







Tinggalkan Balasan