By. Rahmat Mustafa

JIKA konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel dibaca sebagai sebuah permainan, maka kita sedang menyaksikan dua logika yang berbeda saling berhadapan.

Di satu sisi, Amerika Serikat dan Israel memainkan catur klasik, sebuah permainan yang terukur, hierarkis, dan berujung pada satu tujuan untuk menjatuhkan raja.

Di sisi lain, Iran tampak bergerak dengan logika yang lebih cair, menyerupai catur Jawa atau dikenal dengan permainan dam-daman.

Dalam permainan ini, tanpa pusat tunggal, tanpa satu figur penentu, dan tanpa akhir yang bisa ditentukan hanya dari tumbangnya satu tokoh.

Dalam catur klasik, seluruh strategi disusun dengan satu orientasi dengan mengunci dan mengakhiri langkah raja lawan.

Tidak penting berapa banyak pion yang tersisa, sekuat apa benteng bertahan, atau secerdas apa manuver menteri dimainkan. Begitu raja jatuh, permainan selesai. Kemenangan bersifat absolut.

Logika inilah yang tampak digunakan oleh Amerika Serikat dan Israel. Serangan diarahkan pada pusat-pusat komando, tokoh kunci, dan elite strategis.

Dalam berbagai laporan konflik sepanjang 2025 hingga awal 2026, sejumlah nama penting di lingkar kekuasaan Iran disebut menjadi target dan korban.

Dari tokoh politik hingga jajaran komandan militer, serangan diarahkan untuk memutus kepala dari tubuh kekuatan itu sendiri.

Sederet korban itu antara lain: Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Ali Larijani, Kepala Keamanan. Jenderal Mohammad Kazemi, Kepala Intelijen IRGC.

Kemudian Komandan Militer IRGC yakni: Alireza Tangsiri, Jenderal Hassan Mohaqiq, Mohsen Bagheri, Jenderal Abdol Rahim Mousavi, Jenderal Mohammad Pakpour.

Namun di titik inilah asumsi dasar mulai diuji. Sebab yang dihadapi bukanlah sistem yang bergantung pada satu figur tunggal.

Di Iran, struktur kekuasaan dan militernya dibangun dalam pola yang lebih kolektif, berlapis, dan relatif tahan terhadap kehilangan individu.

Kepemimpinan tidak sepenuhnya bertumpu pada satu orang, tapi pada jaringan yang saling menopang.

Akibatnya, efek yang diharapkan dari strategi mematikan raja tidak selalu bekerja sebagaimana mestinya. Alih-alih melemah secara cepat, respons justru tetap berjalan.

Meski sekitar 20 persen pemimpin elite Iran terbunuh, ternyata tidak membuat ribuan rudal balistik berhenti menghujani aset-aset Amerika dan negara Israel setiap tiga jam sekali.

Serangan balasan, mobilisasi militer, hingga kesinambungan komando menunjukkan bahwa kehilangan elite tidak serta-merta menghentikan gerak keseluruhan.

Di sinilah analogi dam-daman menjadi relevan. Dalam permainan ini, tidak ada raja yang harus dijatuhkan untuk mengakhiri permainan.

Setiap bidak memiliki peluang menjadi penentu. Kemenangan tidak ditentukan oleh satu titik, tapi daya tahan dan konsistensi gerak secara kolektif.

Cara pandang seperti ini menghasilkan strategi yang berbeda. Kekuatan tidak dipusatkan, melainkan disebar.

Risiko tidak ditumpuk pada satu titik, dibagi ke banyak simpul. Ketika satu bagian melemah, bagian lain mengisi.

Ketika satu tokoh hilang, peran tidak ikut hilang, akan berpindah, bahkan kadang menguat dalam bentuk yang lebih luas.

Bagi sistem yang terbiasa dengan pendekatan hierarkis, pola semacam ini sulit dipatahkan sekaligus sulit dibaca. Sebab ukuran kemenangan menjadi kabur.

Tidak ada satu momen tunggal yang bisa disebut sebagai akhir permainan. Yang ada adalah proses panjang, tarik-menarik, dan ketahanan yang diuji dari waktu ke waktu.

Karena itu, konflik ini tidak lagi sekadar soal siapa yang lebih kuat secara militer, namun siapa yang lebih mampu bertahan dalam jangka panjang.

Apakah kekuatan yang terpusat dan presisi mampu mengakhiri permainan lebih cepat, atau justru kekuatan yang tersebar dan adaptif yang akan bertahan lebih lama.

Perbedaan ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah kemenangan masih bisa didefinisikan sebagai runtuhnya satu simbol kekuasaan?

Ataukah telah bergeser menjadi kemampuan menjaga keberlanjutan, meski dalam kondisi terus ditekan?

Dunia mungkin masih melihat konflik ini dengan kacamata lama. Namun di lapangan, permainan tampaknya sudah berubah. Dan ketika aturan berubah, cara menang pun tidak lagi sama.

sekianG**