Petikan Hikmah Ramadhan (10)


Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

PERNAHKAH kita merenung, saat kita berpuasa, mengapa kita tetap tidak menyentuh makanan lezat yang terhidang di depan mata saat kita sendirian di rumah? Padahal, tidak ada orang yang melihat, tidak ada CCTV yang mengintai, dan tidak ada hukum manusia yang dilanggar jika kita sekadar membasahi kerongkongan.

Demikianlah gambaran orang yang sedang menjalankan ibadah puasa, Ia tetap bertahan meskipun tidak ada yang melihatnya. Itulah sebabnya puasa disebut sebagai ibadah yang unik. Ia adalah latihan integritas level tertinggi.

Di saat yang sama, ia adalah ujian kesabaran yang luar biasa, menunda kepuasan sesaat demi sebuah tujuan yang jauh lebih mulia.

Puasa mendidik kita bahwa hidup bukan tentang apa yang bisa kita lakukan, tapi tentang apa yang benar untuk kita lakukan.

Sabar dan integritas adalah dua sisi dari koin yang sama. Sabar berarti menahan diri dari kemarahan dan keluhan, sementara integritas berarti tetap tegak pada kebenaran meski tak ada mata yang memandang.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Para ulama tafsir seringkali menyebut bahwa kata Sabar dalam ayat-ayat tertentu bermakna Puasa. Sebab, puasa adalah bentuk nyata dari kesabaran dalam ketaatan.

Di sisi yang lain, integritas dapat dimaknai sebagai kejujuran batin. Rasulullah Saw., menegaskan bahwa kualitas puasa seseorang sangat bergantung pada kejujuran perilakunya. Beliau bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Puasa yang berhasil adalah yang melahirkan pribadi berintegritas, yang kata-katanya selaras dengan perbuatannya.

Kejujuran di Padang Rumput

Kisah klasik yang selalu relevan yang berkaitan dengan kejujuran dan integritas adalah pertemuan antara Khalifah Umar bin Khattab dengan seorang anak gembala.

Umar ingin menguji integritas anak tersebut dengan berpura-pura ingin membeli seekor kambing tanpa sepengetahuan tuannya.
Sang gembala menolak dengan tegas. Khalifah Umar berusaha menggodanya.

“Katakan saja pada tuanmu kalau kambingnya dimakan serigala.” goda Umar.

Namun Sang gembala menjawab dengan kalimat yang menggetarkan langit, “Fa ainallah? (Lalu, di mana Allah?)”

Anak gembala itu mungkin tidak sedang berpuasa di hari itu, namun ia memiliki Jiwa Puasa. Ia merasa diawasi oleh Sang Maha Melihat. Inilah integritas. Ia sabar menghadapi godaan uang, karena ia tahu kejujuran jauh lebih berharga.

Ramadhan hadir untuk mencetak ribuan “anak gembala” baru di zaman modern, orang-orang yang berani berkata “Fa ainallah?” saat dihadapkan pada godaan korupsi, kecurangan, atau kebohongan.
Menjadi Muslim yang Selesai dengan Dirinya

Pribadi yang sabar dan berintegritas adalah mereka yang sudah selesai dengan urusan perut dan nafsunya. Mereka tidak mudah dibeli oleh kepentingan duniawi karena mereka sudah terbiasa menahan diri selama sebulan penuh.

Jika puasa kita belum mampu membuat kita lebih sabar dalam menghadapi kemacetan, atau belum mampu membuat kita lebih jujur dalam urusan pekerjaan, maka kita perlu bertanya, Apakah kita sudah benar-benar berpuasa, atau hanya sekadar memindahkan jam makan?

Mari jadikan sisa Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperkuat “otot” kesabaran dan memperkokoh pilar integritas kita. Dunia tidak hanya butuh orang pintar, dunia butuh orang-orang yang tetap jujur meski tak ada yang melihat.Wallahu a’lam.[*]