Petikan Hikmah Ramadan (16)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

RAMADAN selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Suasana lebih religius, malam-malam lebih hidup, dan hati seakan lebih mudah tersentuh. Itu karena di bulan Ramadan ini, berkah dan rahmat Allah Swt., begitu berlimpah yang diturunkan kepada umat Muslim.

Di antara sekian banyak keistimewaan bulan ini, ada satu yang paling mendasar, yakni Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Ia bukan hanya bulan puasa, tetapi bulan ketika manusia diajak kembali kepada sumber cahaya yang sejati.

Dalam perjalanan hidup, kita kadang-kadang merasa lelah tanpa sebab yang jelas. Aktivitas berjalan seperti biasa, capaian demi capaian diraih, tetapi ada ruang batin yang terasa kosong.

Di tengah hiruk pikuk dunia modern —yang penuh informasi namun miskin makna— jiwa kita membutuhkan arah.

Ramadan datang bukan hanya untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi untuk mengembalikan kita kepada petunjuk yang menerangi jalan kehidupan.

Allah Swt., menegaskan dalam firman-Nya:

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah : 185)

Ayat ini menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat dari seluruh kemuliaan Ramadan. Artinya, inti dari bulan suci ini bukan semata pada ritual, tetapi pada relasi kita dengan wahyu.

Al-Qur’an adalah cahaya. Ia menerangi akal, menenangkan hati, dan membimbing langkah. Ketika dibaca dengan kesadaran, ia bukan sekadar rangkaian huruf yang dilafalkan, tetapi pesan ilahi yang hidup.

Ia berbicara tentang kesabaran saat kita gelisah, tentang harapan saat kita putus asa, tentang keadilan saat dunia terasa timpang.

Maka tidak heran jika Ramadan identik dengan tilawah, tadarus, dan tadabbur. Melalui Al-Qur’anlah cahaya itu kembali menyala.

Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Al-Qur’an sering kali bersifat musiman. Ramadan menjadi satu-satunya waktu di mana mushaf kembali dibuka, sementara sebelas bulan lainnya ia tersimpan rapi di rak.

Bahkan ketika dibaca, tidak jarang kita berhenti pada suara, belum sampai pada makna. Padahal, yang dibutuhkan bukan hanya lantunan yang merdu, tetapi perenungan yang mendalam.

Ramadan seharusnya menjadi momentum rekonsiliasi kita dengan Al-Qur’an. Bukan sekadar menargetkan khatam, tetapi membiarkan satu ayat saja benar-benar mengubah cara kita berpikir dan bertindak.

Jika Al-Qur’an berbicara tentang kejujuran, maka Ramadan adalah saatnya memperbaiki integritas.

Jika ia menekankan kepedulian kepada fakir miskin, maka Ramadan adalah waktu terbaik untuk menumbuhkan empati sosial.

Di sinilah cahaya itu bekerja, tidak hanya menerangi hati, tetapi juga membentuk perilaku.

Al-Qur’an, Lentera yang Tak Pernah Padam

Kembali kepada Al-Qur’an berarti kembali kepada orientasi hidup yang benar. Ia menjadi kompas di tengah kebingungan nilai, menjadi penuntun di tengah derasnya arus opini.

Dalam dunia yang sering memuliakan materi dan popularitas, Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara hak dan kewajiban, antara kebebasan dan tanggung jawab.

Karena itu, sejatinya kita jadikan Ramadan sebagai titik balik, bukan hanya memperbanyak bacaan, tetapi memperdalam pemahaman dan memperluas pengamalan.

Biarkan Al-Qur’an kembali menjadi cahaya yang menuntun setiap keputusan dan langkah kita.

Jika Ramadan adalah madrasah, maka Al-Qur’an adalah kurikulumnya. Dan jika hidup adalah perjalanan panjang, maka Al-Qur’an adalah lentera penerang yang tidak pernah padam.

Mari kita kembali ke sumber cahaya itu, bukan hanya selama Ramadan, tetapi untuk selamanya.

Semoga dari bulan inilah lahir pribadi-pribadi Qur’ani yang tidak hanya fasih melafalkan ayat, tetapi juga setia menghidupkannya dalam kehidupan. Wallahu a’lam[*]