
Petikan Hikmah Ramadhan (11)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
DI BULAN Ramadhan, tangan-tangan kita menjadi begitu ringan untuk memberi. Kita melihat berbagi takjil di jalanan, donasi terbuka di grup WhatsApp, hingga santunan yatim piatu yang meriah.
Namun, di balik riuhnya kedermawanan itu, ada sebuah pencuri halus yang siap merampok seluruh pahala kita tanpa sapa. Ia adalah Riya.
Bayangkan Anda bekerja keras sepanjang hari, namun saat gajian tiba, upah Anda dibuang ke laut begitu saja. Menyakitkan, bukan? Itulah perumpamaan sedekah yang dicampuri Riya.
Kita lelah mengeluarkan harta, namun yang kita dapatkan hanyalah pujian manusia yang fana, sementara di buku catatan langit, saldo kita tetap nol.
Penyakit Halus yang Merusak
Riya sering disebut sebagai Syirik Ashghar (syirik kecil), karena saat melakukannya, hati kita sedang menduakan Allah dengan kekaguman manusia. Kita memberi karena ingin dianggap dermawan, kita berderma karena ingin nama kita disebut dalam daftar donatur.
Allah Swt., memberikan perumpamaan yang sangat tajam dalam Al-Qur’an:
“…Maka perumpamaan (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak berdebu lagi)…” (QS. Al-Baqarah: 264)
Ayat ini mengandung makna bahwa sedekah yang dilakukan karena ingin mendapatkan pujian atau ingin dipandang sebagai orang dermawan, ibarat debu di atas batu.
Terlihat ada (tumpukannya), namun begitu “hujan” (hari perhitungan) tiba, debu itu hilang tak berbekas karena tidak memiliki akar keikhlasan yang menancap pada batu tersebut.
Rasulullah Saw., juga sangat mengkhawatirkan hal ini pada umatnya:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad)
Mari belajar dari salah satu cicit Rasulullah Saw., Ali bin Husain bin Ali yang bergelar Zainal Abidin. Selama bertahun-tahun, banyak keluarga miskin di Madinah menemukan karung-karung berisi gandum dan makanan di depan pintu rumah mereka setiap subuh. Tidak ada yang tahu siapa pengirimnya.
Baru ketika Ali bin Husain wafat, bantuan rahasia itu berhenti. Saat jenazahnya dimandikan, orang-orang terkejut melihat punggung beliau yang menghitam dan kapalan.
Ternyata, selama bertahun-tahun, beliau sendiri yang memanggul karung gandum itu di kegelapan malam agar tidak ada satu pun manusia yang melihatnya memberi.
Beliau bukan tidak ingin menginspirasi, tapi beliau sangat takut jika sedikit saja pujian manusia masuk ke hatinya, maka “perdagangannya” dengan Allah akan bangkrut. Beliau memilih mematikan eksistensi diri demi menghidupkan ridha Ilahi.
Memberi dalam Sunyi
Tidak ada larangan menampakkan sedekah jika tujuannya murni untuk memotivasi orang lain. Namun, menjaga hati agar tetap lurus adalah perjuangan yang jauh lebih berat daripada mengeluarkan uang itu sendiri.
Jika setiap kali kita memberi, tangan kita lebih cepat meraih ponsel untuk mengunggahnya daripada mengangkat tangan untuk berdoa agar diterima, maka waspadalah.
Mari kita periksa kembali: apakah kita sedang berinvestasi untuk akhirat, atau hanya sedang membeli “panggung” di dunia? Sejatinya, bersedekah itu seperti sabda Rasulullah Saw., berikut ini:
“…dan seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Biarlah sedekah kita menjadi rahasia antara kita dan Sang Pencipta. Sebab, pujian manusia tidak akan menambah timbangan pahala, namun keridhaan Allah akan mencukupkan segalanya.Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan