
Petikan Hikmah Ramadan (43)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
BANYAK di antara kita yang mengira bahwa sabar hanyalah soal diam saat dihimpit kesulitan, atau sekadar menahan lapar hingga azan Magrib berkumandang. Namun, apakah sabar hanya tentang “bertahan”?
Di Madrasah Ramadan, kita diajak untuk menaikkan level sabar kita. Sabar bukan lagi sebuah benteng pertahanan yang pasif, melainkan sebuah energi aktif yang menguatkan jiwa untuk tetap tegak di atas prinsip, meski badai ujian datang silih berganti.
Sejatinya, sabar yang sesungguhnya mampu mengubah kelemahan menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan.
Sabar dalam Islam terbagi menjadi tiga, yakni; sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menjalani takdir.
Allah Swt., berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu…” (QS. Ali Imran: 200).
Ayat ini menggunakan kata “Saabiru” (bersabarlah) dan “Raabitu” (tetaplah bersiap siaga), yang menunjukkan bahwa sabar adalah proses yang berkelanjutan dan dinamis.
Rasulullah Saw., juga bersabda:
“Sabar adalah cahaya yang terang” (HR. Muslim).
Cahaya ini bukan sekadar lampu redup, melainkan sinar yang menuntun kita keluar dari kegelapan keputusasaan.
Saat kita berpuasa, kita tidak hanya menahan diri dari makan, tapi menguatkan otot spiritual agar tidak mudah goyah oleh godaan duniawi.
Sabar Menguatkan Hubungan dengan Allah
Ingatlah kisah Nabi Ayyub AS. Beliau tidak hanya “menahan” rasa sakit dan kehilangan harta serta anak-anaknya selama bertahun-tahun.
Sabarnya adalah sabar yang menguatkan hubungan dengan Allah.
Beliau tidak pernah mengeluh, bahkan merasa malu untuk meminta kesembuhan karena merasa nikmat yang Allah berikan sebelumnya jauh lebih lama dibanding masa sakitnya.
Kekuatan sabar inilah yang akhirnya membuat Allah mengembalikan segala yang hilang darinya dengan berlipat ganda.
Sabar Nabi Ayyub adalah bukti bahwa saat kita menguatkan kesabaran, Allah-lah yang akan menguatkan keadaan kita.
Sabar yang naik level adalah ketika kita tidak lagi bertanya “Kapan ujian ini berakhir”, melainkan “Apa yang Allah ingin aku pelajari dari sini?”
Ramadhan mengajarkan kita bahwa menahan lapar itu sementara, namun kekuatan jiwa yang lahir darinya bersifat selamanya.
Jadikan sabar sebagai mesin penggerak, bukan rem yang menghentikan langkah.
Dengan sabar yang menguatkan, tidak ada beban hidup yang terlalu berat untuk dipikul, karena kita tahu Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan