
Petikan Hikmah Ramadan (18)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
RAMADAN biasa juga disebut sebagai Syahrul Qur’an (Bulan diturunkannya Al-Qur’an). Itulah sebabanya Ramadan juga identik dengan lantunan ayat-ayat suci.
Di masjid-masjid, di rumah-rumah, bahkan di sela kesibukan kerja, Al-Qur’an kembali dibaca dengan penuh semangat. Suaranya menggema, halamannya dibuka, target khatam pun disusun.
Namun di tengah semarak tilawah itu, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri, sudahkah kita benar-benar memahami apa yang kita baca?
Membaca adalah langkah awal yang mulia. Setiap huruf Al-Qur’an yang dilafalkan bernilai pahala, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah Saw., di dalam sabdanya:
“Siapa yang menbaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan. Dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Alif, Lam, Mim, dalam kata “Aliflammim” dihitung tiga huruf.” (HR. At-Tirmidzi).
Akan tetapi, Al-Qur’an diturunkan tidak hanya untuk dibaca, melainkan untuk direnungkan dan diamalkan. Allah mempertanyakan dalam firman-Nya :
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad : 24)
Ayat ini seolah menjadi teguran lembut bahwa interaksi dengan wahyu tidak boleh berhenti pada lisan, tetapi harus menembus hati dan akal.
Al-Qur’an adalah Cermin Diri
Tadabbur berarti menyelami makna, merenungkan pesan, dan menghadirkan ayat dalam ruang kehidupan nyata. Ia bukan aktivitas akademik yang rumit, tetapi proses menghadirkan kesadaran saat membaca.
Ketika kita membaca ayat tentang kesabaran, kita bertanya, sudahkah saya sabar dalam menghadapi ujian?
Ketika membaca ayat tentang kejujuran, kita merenung, adakah sikap yang perlu saya perbaiki? Tadabbur menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar teks, tetapi cermin diri.
Ramadan adalah waktu terbaik untuk membangun budaya tadabbur. Di bulan ini, suasana lebih kondusif, hati lebih lembut, dan waktu lebih mudah ditata untuk berinteraksi dengan wahyu.
Namun sering kali kita terjebak pada kuantitas bacaan, sementara kualitas perenungan terabaikan.
Kita bangga menyelesaikan satu juz dalam sehari, tetapi lupa memberi waktu lima menit untuk memahami satu ayat yang menyentuh.
Dalam konteks kehidupan modern, kebutuhan akan tadabbur semakin mendesak.
Kita hidup di era informasi yang melimpah, tetapi makna sering kali hilang. Banyak yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara spiritual.
Al-Qur’an menawarkan kedalaman yang mampu menata kembali orientasi hidup. Ayat-ayatnya berbicara tentang keadilan di tengah ketimpangan sosial, tentang amanah di tengah krisis integritas, dan tentang tanggung jawab di tengah budaya saling menyalahkan.
Tanpa tadabbur, pesan-pesan ini hanya berlalu di telinga, tidak pernah berlabuh di hati.
Tadabbur juga melatih kepekaan batin. Ia mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia dan memberi ruang bagi suara ilahi.
Dalam keheningan itu, kita sering menemukan jawaban atas kegelisahan yang selama ini kita pendam.
Satu ayat yang direnungkan dengan sungguh-sungguh dapat mengubah cara pandang, memperbaiki sikap, bahkan menguatkan tekad untuk berubah.
Karena itu, Ramadan ini hendaknya menjadi titik balik dalam cara kita berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Tetaplah membaca dengan semangat, tetapi lengkapi dengan perenungan yang mendalam. Tidak harus panjang, cukup satu atau dua ayat setiap hari yang benar-benar kita pahami dan niatkan untuk diamalkan. Dari situlah transformasi dimulai.
Al-Qur’an adalah petunjuk hidup. Petunjuk itu hanya akan efektif jika dipahami dan diikuti.
Maka, mari kita bergerak dari sekadar membaca menuju memahami, dari melafalkan menuju menghayati, dari mendengar menuju mengamalkan.
Jadikan Ramadan sebagai madrasah tadabbur, agar setelah bulan ini berlalu, yang tersisa bukan hanya catatan khatam, tetapi perubahan nyata dalam diri.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu menghadirkan maknanya dalam setiap langkah kehidupan. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan