
Petikan Hikmah Ramadan (23)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
RAMADAN hampir tiba di penghujungnya. Setelah sebulan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, Islam tidak menutup bulan suci ini hanya dengan takbir kemenangan. Ia menutupnya dengan kepedulian sosial.
Di sinilah zakat fitrah menemukan maknanya, sebagai penyuci jiwa dan penguat solidaritas umat.
Mungkin masih ada di antara kita yang memahami bahwa puasa hanya sebagai ibadah individual, hubungan antara hamba dan Tuhannya. Padahal, Islam selalu menghadirkan dimensi sosial dalam setiap ritualnya.
Zakat fitrah menjadi bukti bahwa keberhasilan spiritual tidak boleh berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi harus berbuah pada kepedulian terhadap sesama.
Ajaran Islam mewajibkan zakat fitrah atas setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perbuatan yang kurang bermakna.
Selain itu, zakat fitrah juga sebagai makanan bagi kaum fakir miskin.
Dalam makna ini, zakat fitrah bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan penyempurna ibadah Ramadan.
Puasa melatih empati dengan merasakan lapar. Zakat fitrah menerjemahkan empati itu menjadi aksi nyata. Ia memastikan bahwa di hari raya, tidak ada yang terpinggirkan oleh kemiskinan.
Semua merasakan kebahagiaan, semua memiliki alasan untuk tersenyum. Inilah wajah Islam yang menghadirkan keadilan dan kebersamaan.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, zakat fitrah mengajarkan prinsip distribusi dan keseimbangan ekonomi.
Islam tidak membiarkan akumulasi harta hanya berputar pada kelompok tertentu. Ia menghadirkan mekanisme berbagi yang sistematis, terstruktur, dan bernilai ibadah.
Zakat bukan sekadar charity, tetapi instrumen sosial yang memiliki dimensi spiritual dan peradaban.
Menyucikan Jiwa Dari Penyakit Kikir
Lebih dalam lagi, zakat fitrah menyucikan jiwa dari penyakit kikir dan egoisme. Selama sebulan kita dilatih mengendalikan diri.
Di penghujung Ramadan, kita dilatih melepaskan sebagian yang kita miliki. Ternyata kemenangan sejati bukan hanya mampu menahan diri dari yang haram, tetapi juga rela berbagi dari yang halal.
Momentum menjelang Idul Fitri sering kali dipenuhi dengan kesibukan duniawi. Berbelanja, persiapan pakaian, dan aneka kebutuhan lahiriah.
Zakat fitrah mengingatkan kita agar tidak terjebak pada euforia material. Ada hak orang lain yang harus ditunaikan sebelum takbir berkumandang. Ada tanggung jawab sosial yang harus diselesaikan sebelum kita merayakan kemenangan.
Maka, tunaikanlah zakat fitrah dengan kesadaran, bukan sekadar rutinitas. Niatkan sebagai penyuci puasa dan sebagai jembatan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan.
Libatkan keluarga, ajarkan anak-anak tentang makna berbagi, agar nilai kepedulian itu tumbuh sejak dini.
Ramadan akan segera pergi. Namun nilai-nilainya tidak boleh ikut berlalu. Jika puasa melahirkan ketakwaan dan zakat fitrah melahirkan kepedulian, maka Idul Fitri akan menjadi momentum kembali kepada fitrah, yakni jiwa yang bersih dan hati yang lapang.
Mari tutup Ramadan ini dengan amal terbaik. Bersihkan jiwa, kuatkan solidaritas, dan songsong hari kemenangan dengan hati yang ringan, karena kita telah menunaikan hak Allah dan hak sesama. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan