Petikan Hikmah Ramadhan (6)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

MENJELANG senja di bulan Ramadhan, suasana berubah menjadi berbeda. Langit perlahan meredup, aktivitas mulai melambat, dan hati menanti satu momen yang dinanti-nantikan, yakni waktu berbuka puasa.

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, berbuka menjadi titik lega yang menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan.

Rasulullah Saw., bersabda: “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa, dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, di balik momen yang ditunggu itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu berdoa pada detik-detik jelang berbuka puasa. Saat itu, doa-doa yang dipanjatkan tidak akan ditolak.

Karena itu, sesaat sebelum waktu berbuka tiba, seharusnya kita tidak sibuk dengan menu hidangan buka puasa. Sejatinya kita khusyu’ memanjatkan doa kepada Allah Swt., apa pun yang menjadi hajat kita.

Rasulullah Saw., bersabda:
“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu ada doa yang tidak akan ditolak ketika ia berbuka.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini membuka kesadaran kita bahwa detik-detik berbuka adalah waktu mustajab, waktu di mana doa-doa diangkat dan harapan-harapan dilangitkan.

Di saat tubuh merasakan lemah, justru hati berada dalam kondisi yang paling jernih dan tunduk kepada Allah.

Namun, di sinilah letak ujian itu. Tidak sedikit di antara kita yang justru melewatkan waktu mustajab ini. Fokus kita sering kali lebih tertuju pada hidangan yang tersaji di hadapan mata.

Pikiran disibukkan dengan apa yang akan dimakan, sementara hati lupa untuk bermunajat.

Kita terburu-buru menyantap makanan, tetapi lalai memanjatkan doa. Kita menikmati hidangan berbuka, tetapi melupakan kesempatan emas yang mungkin tidak datang dua kali.

Padahal, berbuka adalah puncak dari perjalanan kesabaran. Ia bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi juga momentum penghambaan.

Seteguk air yang kita minum seharusnya diiringi dengan rasa syukur yang mendalam. Suapan pertama seharusnya menjadi pengingat bahwa Allah-lah yang memberi kekuatan untuk bertahan sepanjang hari.

Rasulullah Saw., juga mengajarkan kesederhanaan dalam berbuka. Beliau berbuka dengan kurma atau air, sebelum melaksanakan shalat.

Ini bukan hanya tuntunan, tetapi juga pelajaran bahwa esensi berbuka bukan pada kemewahan hidangan, melainkan pada keberkahan dan kesadaran.

Berbuka juga mengajarkan kita tentang empati. Rasa lapar yang kita rasakan sepanjang hari adalah jembatan untuk memahami mereka yang hidup dalam kekurangan. Dari sinilah tumbuh kepedulian, dari sinilah lahir keinginan untuk berbagi.

Kini, ketika waktu berbuka kembali kita jumpai setiap hari di bulan Ramadhan, kita perlu mengubah cara pandang kita.

Jangan biarkan detik-detik mustajab itu berlalu begitu saja tanpa doa. Sebelum tangan meraih makanan, biarkan hati terlebih dahulu terangkat kepada Allah. Sebelum kita memuaskan rasa lapar, penuhilah jiwa dengan harapan dan permohonan.

Sebab, boleh jadi, di antara detik-detik berbuka itulah, doa yang kita panjatkan menjadi jalan perubahan hidup kita. Dan boleh jadi pula, itulah saat di mana Allah paling dekat mengabulkan harapan-harapan kita.

Jangan biarkan waktu mustajab itu terlewat lagi. Wallahu a’lam.[*]