
Petikan Hikmah Ramadhan (4)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
PUASA adalah salah satu perintah Allah di dalam bulan Ramadhan, sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 183, yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. (Al-Baqarah: 183)
Puasa ada adalah ibadah sirri, ibadah yang tidak memiliki bentuk fisik yang bisa disaksikan oleh orang lain.
Berbeda dengan ibadah lainnya, misalnya, shalat ada gerakannya, zakat ada wujud hartanya, dan haji ada ritual kerumunannya.
Namun, puasa, tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa atau tidak kecuali dirinya dan Allah Swt. Kita bisa saja meneguk segelas air di balik pintu yang terkunci tanpa ada satu pun manusia yang melihat, namun kita memilih untuk tidak melakukannya.
Di sinilah letak keajaiban puasa. Ia adalah madrasah pertama yang mengajarkan kita tentang ikhlas. Sebuah ruang sunyi di mana tepuk tangan manusia tak lagi bermakna, karena yang di kejar hanyalah senyuman Sang Pencipta di balik rasa lapar yang melilit.
Ikhlas dalam puasa bukan sekadar menahan makan, melainkan melatih kejujuran batin. Rasa lapar yang kita rasakan adalah pengingat bahwa kita sedang melakukan sesuatu hanya untuk-Nya.
Dalam sebuah Hadis Qudsi yang sangat masyhur, Allah Swt., berfirman:
“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa Allah menyandarkan puasa kepada diri-Nya karena dalam puasa tidak ada unsur riya (pamer). Seseorang tidak bisa berakting lapar hanya untuk dipuji sebagai orang yang shaleh.
Kebenaran puasa ada di dalam niat yang tersembunyi. Inilah hikmah terdalamnya, puasa melatih kita untuk merasa cukup dengan penilaian Allah saja.
Sepotong Roti di Tepi Jalan
Ada sebuah kisah tentang seorang pemuda yang sangat lapar di siang hari Ramadhan. Ia menemukan sepotong roti yang terjatuh di tempat yang sepi. Tidak ada orang, tidak ada CCTV, tidak ada saksi. Kerongkongannya kering, perutnya perih.
Ia mengambil roti itu, namun kemudian ia teringat satu hal: “Jika aku memakannya, aku mungkin kenyang sesaat, tapi aku kehilangan ‘percakapan rahasia’ ku dengan Allah hari ini.” Ia pun meletakkan roti itu kembali dengan senyuman.
Rasa lapar yang ia rasakan tiba-tiba berubah menjadi rasa manis di hatinya. Ia sadar bahwa ia telah menang melawan egonya sendiri. Ia belajar bahwa ikhlas bukan tentang tidak merasakan beban, tetapi tentang bertahan dalam beban karena mencintai Sang Pemberi Perintah, yaitu Allah Swt.
Ikhlas yang Tak Bertepi
Menjemput ikhlas memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia butuh latihan, dan, lapar adalah gurunya.
Melalui rasa haus, kita belajar bahwa hidup ini bukan tentang pemuasan nafsu tanpa batas, melainkan tentang pengendalian diri demi keridhaan-Nya.
Jika di bulan Ramadhan ini kita bisa jujur kepada Allah saat sendirian, mampukah kejujuran dan keikhlasan itu kita bawa keluar setelah Ramadhan usai?
Mari jadikan setiap perih di lambung kita sebagai saksi bahwa hati ini masih milik-Nya, dan hanya kepada-Nya kita berharap balasan.
Pada akhirnya, bukan rasa lapar kita yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dan keikhlasan yang tumbuh di baliknya. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan