Petikan Hikmah Ramadan (56)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

SECARA etimologis, Syawal memiliki arti “peningkatan”. Nama bulan ini seolah menjadi pesan permanen bagi setiap Muslim bahwa pasca-Ramadan, grafik kualitas diri tidak boleh menurun, melainkan harus mendaki lebih tinggi.

Jika Ramadan adalah “madrasah” atau kawah candradimuka, maka Syawal adalah medan evaluasi, untuk melihat sejauh mana kurikulum spiritual yang kita jalani selama sebulan penuh, benar-benar membekas dalam perilaku sehari-hari.

Kini, saat Syawal berada di penghujungnya, sudah saatnya kita melakukan audit internal, apakah kita telah benar-benar meningkat, atau justru kembali ke titik nol.

Allah Swt. memberikan panduan mengenai pentingnya evaluasi diri ini dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hashr: 18)

Dalam perspektif pendidikan Islam, ayat ini adalah basis dari konsep muhasabah.

Evaluasi “kurikulum” Syawal bukan sekadar menghitung berapa kali kita khatam Al-Qur’an atau berapa hari kita berpuasa sunnah, melainkan sejauh mana nilai-nilai puasa —seperti kejujuran, disiplin, dan empati sosial— telah terinternalisasi menjadi malakah atau karakter yang menetap.

Seorang hamba yang lulus dari madrasah Ramadan akan terlihat dari peningkatan kualitas akhlaknya di bulan Syawal.

Konsistensi: Indikator Keberhasilan Spiritual

Rasulullah Saw., memberikan standar yang sangat jelas mengenai amal yang terbaik melalui sabdanya:

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berkelanjutan (istikamah) meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

Keberhasilan kurikulum Syawal tidak diukur dari lonjakan ibadah yang drastis namun singkat, melainkan dari sisa-sisa ketaatan yang masih terjaga.

Jika shalat berjamaah kita masih terjaga, lisan kita masih terkendali dari ghibah, dan tangan kita masih ringan untuk bersedekah sebagaimana di bulan Ramadan, maka itu adalah pertanda kuat bahwa kita telah mengalami peningkatan.

Namun, jika masjid mulai sepi dan sifat-sifat buruk kembali muncul, maka kita perlu mempertanyakan apakah puasa kita kemarin hanya sekadar menahan lapar dan dahaga.

Ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya, “Wahai Guru, aku merasa ibadahku di bulan Ramadan sangat luar biasa, namun mengapa di bulan Syawal ini aku merasa hambar?”

Sang Guru menjawab dengan analogi yang indah, “Jika engkau merebus air, air itu akan tetap panas selama api menyala. Jika api kau matikan, air itu perlahan mendingin.

Ramadan adalah saat apinya berkobar besar. Syawal bukan berarti mematikan api, tapi mengecilkan apinya agar tetap stabil sehingga air tetap hangat untuk waktu yang lama.”

Sang murid tersadar bahwa peningkatan tidak harus selalu dalam bentuk “ledakan” besar, melainkan dalam bentuk “kehangatan” yang konsisten.

Ia mulai mengevaluasi dirinya bukan dari jumlah rakaat yang ribuan, melainkan dari ketenangan hatinya saat sujud dan kejujurannya dalam bermuamalah dengan sesama manusia di pasar dan di kantor.

Akhirnya, evaluasi kurikulum Syawal ini harus bermuara pada kesadaran bahwa ketaatan adalah proses seumur hidup.

Kita tidak menyembah Ramadan, melainkan menyembah Tuhan pemilik Ramadan yang juga Tuhan di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya.

Jangan biarkan peningkatan yang telah kita capai luruh begitu saja.
Kita jadikan akhir Syawal ini sebagai batu pijakan untuk melompat lebih tinggi di bulan-bulan berikutnya.

Semoga audit spiritual yang kita lakukan hari ini mampu memperbaiki kualitas diri kita, sehingga kita tidak hanya menjadi pribadi yang baik saat berbaju koko dan mukena, tetapi menjadi pribadi yang rabbani di setiap helaan napas kita. Wallahu a’lam. [*]