
Petikan Hikmah Ramadan (60)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
TANPA terasa, matahari Syawal kian condong ke ufuk barat, menandakan berakhirnya bulan kemenangan.
Gema takbir yang dulu membahana kini telah berganti dengan keriuhan aktivitas duniawi yang kembali normal.
Namun, bagi seorang mukmin yang cerdas, berakhirnya Syawal bukanlah tanda berakhirnya kemenangan. Justru di detik-detik terakhir bulan ini, kita perlu merenung, apakah kemenangan yang kita rayakan kemarin adalah kemenangan sejati yang transformatif, ataukah hanya kemenangan seremonial yang akan layu ditelan waktu?
Allah Swt. mengingatkan esensi keberuntungan dan kemenangan dalam Al-Qur’an:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan dia mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (QS. Al-A’la: 14-15)
Kemenangan sejati dalam perspektif Islam bukanlah keberhasilan mengalahkan orang lain, melainkan keberhasilan menaklukkan ego dan hawa nafsu sendiri.
Syawal yang berarti “peningkatan” seharusnya membuat hati semakin jernih dan nurani semakin tajam.
Jika setelah Syawal ini kita merasa lebih ringan dalam beribadah dan lebih peka terhadap penderitaan sesama, itulah tanda bahwa kemenangan sejati sedang bersemi di dalam jiwa kita.
Istiqamah: Mahkota Kemenangan
Menjaga kemenangan jauh lebih sulit daripada meraihnya. Banyak orang mampu menjadi “malaikat” di bulan Ramadan, namun hanya sedikit yang mampu menjaga integritas moralnya di bulan-bulan setelahnya.
Rasulullah Saw., bersabda dalam sebuah hadis yang sangat populer:
“Sampaikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari, mudahkanlah dan jangan mempersulit.” (HR. Muslim)
Dalam konteks menjaga kemenangan, hadis ini mengajarkan kita untuk tidak mempersulit diri dengan target yang mustahil, namun tetap konsisten pada jalan ketaatan.
Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu membawa karakter “Idul Fitri” (kembali ke kesucian) ke dalam pasar, kantor, dan ruang-ruang publik lainnya.
Integritas yang terjaga di tengah godaan duniawi adalah mahkota dari kemenangan yang kita raih di bulan suci.
Dalam sebuah hikayat dikisahkan, seorang sufi yang ditanya oleh muridnya, “Wahai Guru, kapan sebenarnya hari raya yang sesungguhnya itu?” Sang Guru menjawab dengan bijak, “Hari raya bagi setiap mukmin adalah setiap hari di mana ia tidak melakukan maksiat kepada Allah.”
Kisah ini memberikan tamparan halus bagi kita. Kemenangan sejati tidak terikat pada waktu tertentu, misalnya tanggal 1 Syawal. Setiap hari di mana kita mampu mengendalikan amarah, setiap saat di mana kita jujur dalam bekerja, dan setiap detik di mana kita menjaga lisan dari menyakiti orang lain, itulah “Idul Fitri” yang sebenarnya.
Kemenangan sejati adalah sebuah proses berkelanjutan, bukan sebuah titik henti.
Sebagai penutup dari rangkaian “Petikan Hikmah Ramadhan”, mari kita pasang tekad yang kuat di penghujung Syawal ini.
Jangan biarkan lentera iman yang telah kita nyalakan dengan susah payah selama Ramadan, padam karena tiupan angin kelalaian di bulan-bulan mendatang.
Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu melangkah memasuki bulan Dzulqa’dah dengan kualitas diri yang lebih baik.
Semoga Allah Swt., menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni segala kekhilafan, dan senantiasa membimbing langkah kita di jalur yang diridhoi-Nya.
Selamat melanjutkan perjalanan spiritual, karena sejatinya, akhir dari Syawal adalah awal dari perjuangan yang sesungguhnya. Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan