Petikan Hikmah Ramadan (57)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

RAMADAN telah melatih kita untuk melepaskan keterikatan pada kebutuhan materiil demi meraih rida Ilahi.

Namun, seiring berlalunya bulan suci dan kembalinya kita ke ritme kehidupan normal, ada ancaman sunyi yang mengintai hati setiap mukmin.

Penyakit ini tidak menyerang fisik, melainkan melumpuhkan visi akhirat kita.

Dalam literatur Islam, penyakit ini dikenal dengan istilah wahn.

Wahn adalah istilah dalam Bahasa Arab yang berarti kelemahan, kerapuhan, atau kelesuan.

Bahkan, di dalam hadis Rasulullah Saw., wahn disebut sebagai penyakit, yaitu penyakit hati, sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah Saw.:

“Hampir saja bangsa-bangsa memperebutkan kalian seperti orang-orang yang makan memperebutkan nampan makanannya.” Seseorang bertanya: “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?” Beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian banyak, namun kalian seperti buih di lautan… dan Allah akan menanamkan dalam hati kalian penyakit wahn.” Seseorang bertanya: “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Dunia di Tangan, Bukan di Hati

Penyakit wahn bukanlah larangan untuk menjadi kaya atau sukses secara materi. Sebagai umat Islam, kita justru didorong untuk kuat secara ekonomi dan intelektual.

Namun, wahn terjadi ketika dunia telah berpindah dari tangan ke dalam hati.

Ketika kecintaan pada harta, jabatan, dan eksistensi diri telah mengalahkan kerinduan pada perjumpaan dengan Allah Swt. Di sanalah wahn mulai bekerja.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt. mengingatkan:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak cucu…” (QS. Al-Hadid: 20)

Pasca-Ramadan, saat intensitas zikir dan tilawah mulai menurun, dunia tampak lebih berkilau dan menggoda.

Di sinilah letak ujiannya, mampukah kita memposisikan dunia hanya sebagai ladang amal (mazra’atul akhirah) dan bukan sebagai tujuan akhir?

Ada sebuah fragmen kehidupan yang menyentuh dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Meskipun beliau memimpin imperium yang sangat luas dan kaya raya, hatinya sama sekali tidak tersentuh oleh penyakit wahn.

Suatu malam, beliau sedang bekerja di bawah lampu minyak negara. Ketika putranya datang untuk membicarakan urusan keluarga, beliau segera memadamkan lampu tersebut. Beliau berkata, “Lampu ini dibayar dengan uang rakyat untuk urusan negara, aku tidak berani menggunakannya untuk kepentingan pribadiku.”

Umar bin Abdul Aziz menunjukkan bahwa seseorang bisa memegang kendali atas dunia yang sangat besar tanpa membiarkan sedikit pun dunia itu masuk meracuni hatinya.

Beliau tidak takut kehilangan jabatan atau harta, karena fokus utamanya adalah pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Inilah penawar paling ampuh bagi penyakit wahn, yaitu integritas dan kesadaran akan pengawasan Ilahi (muraqabah).

Menjaga hati dari penyakit wahn pasca-Ramadan adalah perjuangan untuk tetap merdeka. Orang yang terkena wahn sebenarnya adalah tawanan dari keinginannya sendiri.

Sebaliknya, orang yang hatinya bersih dari wahn akan menjalani hidup dengan penuh ketenangan, karena ia tahu bahwa dunia hanyalah jembatan, bukan rumah tinggal.

Sejatinya, kita jadikan sisa bulan Syawal ini sebagai momentum untuk memperkuat imunitas hati. Jangan biarkan spirit ketaatan kita hancur menjadi “buih” yang mudah terombang-ambing oleh arus materialisme.

Semoga Allah menjauhkan kita dari kecintaan dunia yang berlebihan, sehingga kita tetap menjadi pribadi yang tangguh, teguh, dan selalu merindukan kemuliaan di sisi-Nya. Wallahu a’lam.[*]