
Petikan Hikmah Ramadan (58)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
TAK TERASA, kini kita telah berada di ambang pintu bulan Dzulqa’dah. Jika Syawal adalah bulan peningkatan, maka Dzulqa’dah adalah bulan pemantapan posisi.
Dalam kalender Hijriah, Dzulqa’dah merupakan pembuka dari empat bulan haram (ash-shuhurul hurum), yaitu bulan yang dimuliakan Allah.
Secara harfiah, Dzulqa’dah berasal dari kata qa’ada yang berarti duduk atau beristirahat.
Nama ini mengandung filosofi mendalam, sebuah fase untuk “duduk” sejenak, menenangkan diri dari hiruk-piruk dunia, dan memastikan langkah kita tetap terarah pada rida-Nya.
Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman mengenai kemuliaan bulan-bulan haram ini:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan… di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At-Tawbah: 36)
Larangan menganiaya diri sendiri dalam ayat ini bermakna luas. Kita dilarang membiarkan diri kita kembali terjebak dalam kegelisahan yang tidak perlu atau kehilangan arah setelah ditempa di madrasah Ramadan.
Menyongsong Dzulqa’dah berarti melatih jiwa untuk menjadi Nafsul Muthmainnah, yakni jiwa yang tenang.
Ketenangan adalah Kekuatan
Ketenangan bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak dari sebuah keyakinan.
Pribadi yang tenang adalah mereka yang telah selesai dengan ambisi pribadinya dan menyerahkan segala urusan kepada Sang Pencipta.
Rasulullah Saw., bersabda dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Di bulan Dzulqa’dah ini, kita diajak untuk mempraktikkan hadis ini secara nyata. Hidup yang terarah lahir dari hati yang rida.
Ketika kita tidak lagi terburu-buru mengejar dunia dan mulai memprioritaskan ibadah serta karya, maka di situlah keberkahan akan hadir.
Menjadi terarah berarti memiliki kompas yang jelas, untuk apa kita bekerja, untuk siapa kita menulis, dan ke mana akhir dari pengabdian kita.
Diriwayatkan tentang seorang abid (ahli ibadah) yang tetap tenang meski seluruh perniagaannya dikabarkan hangus terbakar.
Saat berita duka itu datang, ia hanya mengucap “Alhamdulillah”. Tak lama kemudian, seseorang datang meralat bahwa ternyata barang-barangnya selamat. Ia pun kembali mengucap “Alhamdulillah”.
Orang-orang bingung dan bertanya mengapa ia mengucap syukur di kedua kondisi tersebut. Ia menjawab, “Saat berita kebakaran datang, aku memeriksa hatiku dan aku dapati hatiku tidak sedih kehilangan dunia, maka aku bersyukur.
Saat berita selamat datang, aku dapati hatiku tidak sombong atas harta itu, maka aku pun bersyukur.”
Inilah contoh pribadi yang tenang dan terarah; hatinya tidak lagi terombang-ambing oleh fluktuasi dunia karena ia telah tertambat pada Yang Maha Kekal.
Menyongsong Dzulqa’dah adalah momentum bagi kita untuk melakukan “konsolidasi batin”. Jangan biarkan ritme kehidupan yang kembali cepat membuat kita kehilangan ketenangan yang telah kita raih.
Jadilah pribadi yang tenang dalam menghadapi ujian, dan terarah dalam menebar manfaat.
Mari kita masuki bulan mulia ini dengan tekad untuk tidak lagi menyakiti diri sendiri dengan ambisi yang berlebihan atau kekhawatiran yang sia-sia.
Dengan ketenangan, kita akan melihat jalan dengan lebih jernih. Dengan keterarahan, setiap ayunan langkah kita akan menjadi pahala yang bernilai di sisi-Nya. Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan