
ZATERA.ID, GOWA — Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, sekelompok masyarakat di Kelurahan Parangbanoa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, memilih tetap merawat akar budaya dan tradisi yang diwariskan para leluhur.
Mereka tergabung dalam Kerukunan Keluarga DAE, sebuah komunitas yang namanya diambil dari panggilan kehormatan “Dae'” yang telah lama hidup dalam tradisi keluarga dan masyarakat Parangbanoa.
Bagi warga setempat, Dae’ bukan sekadar sapaan. Panggilan itu mencerminkan nilai penghormatan, persaudaraan, dan ikatan kekeluargaan yang telah terjaga lintas generasi.
Salah satu pendiri komunitas Kerukunan Keluarga DAE, Kolonel (Purn) Hj, Hasnah Dg. Ngimi mengungkapkan, tahun ini, komunitas DAE kembali menggelar rangkaian kegiatan yang memadukan nilai keagamaan, budaya, dan kebersamaan keluarga. Kegiatan diawali dengan penamatan Al-Qur’an, dilanjutkan pembacaan Barasanji dan Parate sebagai bagian dari tradisi spiritual masyarakat.
Komunitas ini juga melaksanakan ziarah ke makam leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulu yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi saat ini.
Momentum silaturahmi semakin terasa melalui kegiatan Maccoto, tradisi berkumpul keluarga besar dan handai taulan yang menjadi ruang mempererat hubungan kekeluargaan yang terkadang terpisah oleh kesibukan dan jarak.
Tidak hanya itu, anggota komunitas bersama keluarga juga melaksanakan salat berjamaah di Masjid Nurul DAE Parangbanoa sebelum melanjutkan kegiatan A’jene-jene di kawasan Tanjung Bunga, sebuah tradisi yang sarat makna kebersamaan dan penyegaran hubungan sosial antarwarga.
Berbagai pertandingan olahraga turut meramaikan kegiatan tersebut. Namun yang paling menarik perhatian adalah pertandingan domino yang hingga kini tetap menjadi tradisi khas keluarga DAE. Bukan semata soal menang atau kalah, permainan itu menjadi ruang bercengkerama, berbagi cerita, dan memperkuat keakraban antargenerasi.
Keberadaan Komunitas DAE menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui acara besar. Dengan menjaga tradisi keluarga, menghormati leluhur, dan memperkuat kebersamaan, nilai-nilai lokal tetap dapat hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di Parangbanoa, tradisi bukan sekadar kenangan masa lalu. Ia terus bergerak, tumbuh, dan menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan identitas budayanya sendiri. (Aril)




Tinggalkan Balasan