
ZATERA.ID | BANTAENG — Kabupaten Bantaeng di bawah kepemimpinan Fathul Fawzi Nurdin terus berbenah dengan mengangkat potensi daerah melalui tagline Bantaeng Menuju Perubahan.
Salah satu sektor yang berkembang pesat adalah pariwisata berbasis alam, khususnya wisata permandian yang memanfaatkan kejernihan sungai.
Namun, di balik geliat tersebut, muncul kekhawatiran terhadap keberlanjutan lingkungan. Sejumlah pelaku usaha wisata dinilai belum sepenuhnya memperhatikan aspek kelestarian alam.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah Permandian Bali yang terletak di bantaran Sungai Batu Doli, Desa Barua, Kecamatan Eremerasa.
Pemilik usaha, Shalihin, kepada Zatera.id, Senin (23/3/2026), mengungkapkan bahwa destinasi tersebut mulai beroperasi sejak 2019. Untuk masuk ke lokasi, pengunjung dikenakan tarif Rp5.000, sementara parkir sepeda motor sebesar Rp5.000.
Berlokasi sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Bantaeng, tempat ini menjadi magnet bagi wisatawan, tidak hanya dari Bantaeng, tetapi juga dari daerah sekitar seperti Jeneponto, Bulukumba, dan Gowa.
Namun, pengembangan kawasan wisata tersebut menuai perhatian. Pengelola diketahui melakukan penimbunan di bantaran Sungai Batu Doli menggunakan alat berat untuk memperluas area permandian.
Aktivitas tersebut dinilai berpotensi menimbulkan risiko longsor, terlebih terdapat rumah warga yang berdiri di atas area yang telah diratakan.
Shalihin pun mengakui bahwa pengerjaan dengan dua unit alat berat tersebut memang bertujuan untuk memperluas kawasan wisata.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan keselamatan warga sekitar. (Aril)




Tinggalkan Balasan