By. Rahmat Mustafa

Benda-benda di sekitar kita sesungguhnya adalah entitas sunyi. Hadir tanpa pretensi, tanpa kehendak, dan sepenuhnya netral dalam hukum semesta.

Sifat nirmakna tersebut gugur seketika saat jemari manusia menyentuhnya. Benda bukan lagi sekadar materi, bermetamorfosis menjadi perpanjangan niat, ambisi, bahkan manifestasi dari nurani penggunanya.

Mari menilik sebuah cobek di sudut dapur. Ia adalah saksi ketulusan ibu yang mengulek bumbu demi melahirkan harmoni rasa. Cobek menjadi simbol cinta kasih.

Pada ruang yang lain, benda yang sama dapat berubah menjadi instrumen kekerasan yang meninggalkan lukaโ€”benjol.

Cobeknya tetaplah batu yang dingin, namun maknanya bergeser mengikuti detak jantung siapa menggenggamnya.

Fenomena serupa terjadi pada hujan. Secara saintifik, ia hanyalah siklus hidrologi yang jatuh membasahi bumi.

Bagi seorang penyair, hujan merupakan harmoni yang merindu dalam suasana syahdu. Untuk anak-anak, hujan adalah keceriaan yang membebaskan.

Namun, di panggung politik, hujan kerap dituding sebagai skenario bencana dan dijadikan komoditas untuk menyudutkan lawan. Hujan turun dari langit yang sama, kini menanggung beban narasi berbeda.

โ€‹Dalam diskursus mengenai kegagalan, waktu barangkali adalah “terdakwa” yang paling tabah. Kita sering berlindung di balik kalimat, “waktu tidak berpihak padaku,” seolah waktu adalah makhluk angkuh yang sengaja berjalan mendahului.

Padahal, waktu adalah bentuk kesetiaan yang absolut, hanya berputar detak demi detak tanpa pernah menoleh ke belakang.

Begitu pula dengan teknologi. Manusia cenderung menyalahkan ponsel pintar atas renggangnya ikatan sosial, atau mengutuk algoritma sebagai biang perpecahan.

Perangkat digital hanyalah serpihan cermin retak. Saat menatap layar dan menemukan kebencian, sebenarnya kita sedang melihat pantulan diri sendiri yang pecah.

Aneh bin ajaib, justru kita lebih memilih menyalahkan “cermin” itu daripada membasuh wajah sendiri.

Dunia tidak sekonyong-konyong menjadi tempat yang keras tanpa kontribusi cara pandang kita.

Kebijaksanaan hidup sejatinya bukan terletak pada upaya mengubah keadaan secara paksa, melainkan pada keberanian untuk menata kembali niat.

Benda tidak pernah memiliki ambisi untuk mencederai makna. Manusialah yang menitipkan niat padanya.ย Sebelum jari menunjuk pada situasi, ada baiknya kita berhenti sejenak untuk bercermin.

Kausa kitalah yang memegang kendali, apakah gerak jemari yang membangun atau tangan yang meruntuhkan, ataupun menjadi cahaya inspirasi atau gelapnya konspirasi?

โ€‹๐’”๐’†๐’Œ๐’Š๐’‚๐’๐‘ฎ**