Refleksi Politik Hari Ini dari Murid-murid HOS Tjokroaminoto


Indonesia hari ini seperti tak pernah benar-benar selesai dengan perbedaan. Polarisasi politik, tarik-menarik ideologi, hingga saling curiga antar-kelompok terus berulang—seolah bangsa ini berjalan di tempat. Padahal, jika menoleh ke belakang, akar perbedaan itu sudah lahir sejak awal republik ini dibayangkan.

Semua itu, menariknya, pernah bertemu di satu rumah yang sama.

Di rumah HOS Tjokroaminoto di Peneleh, Surabaya, pernah tinggal tiga pemuda yang kelak menentukan arah bangsa: Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo.

Mereka belajar dari guru yang sama, membaca buku yang sama, bahkan berdiskusi di ruang yang sama. Namun, sejarah membawa mereka ke tiga jalan ideologi yang berseberangan: nasionalisme, komunisme, dan Islam politik.

Fakta ini memberi pelajaran penting bagi Indonesia hari ini: perbedaan bukan anomali, melainkan fondasi awal bangsa.

Soekarno memilih nasionalisme sebagai jalan tengah. Ia sadar Indonesia terlalu majemuk untuk dipaksa tunduk pada satu tafsir kebenaran.

Nasionalisme baginya bukan ide kaku, melainkan ruang kompromi agar perbedaan bisa hidup dalam satu negara. Pandangan inilah yang kemudian menjadi dasar lahirnya Pancasila.

Musso mengambil arah berbeda. Ia melihat kemerdekaan politik tanpa keadilan ekonomi sebagai kemerdekaan semu.

Komunisme ia yakini sebagai alat revolusi paling tegas. Pilihan itu membawanya pada jalan konfrontasi berdarah, sekaligus meninggalkan trauma panjang dalam sejarah bangsa.

Sementara Kartosuwiryo meyakini Islam sebagai solusi total—bukan hanya nilai moral, tetapi sistem negara.

Ketika Republik memilih jalan lain, ia merasa cita-cita kemerdekaan dikhianati. Konflik pun tak terelakkan.

Tiga murid, tiga keyakinan, satu bangsa yang diperebutkan tafsirnya.

Di sinilah refleksi kekinian menjadi relevan. Polarisasi politik hari ini sering kali memperlakukan perbedaan sebagai ancaman, bukan keniscayaan.

Lawan politik dianggap musuh negara. Perbedaan pandangan dipersempit menjadi soal “kami” dan “mereka”.

Padahal, sejarah justru menunjukkan: Indonesia lahir dari perbedaan yang diperdebatkan, bukan disenyapkan.

HOS Tjokroaminoto tidak mencetak murid yang seragam. Ia mencetak manusia yang berpikir. Ia membuka ruang dialog, meski sadar hasilnya bisa berlawanan arah.

Barangkali inilah pelajaran paling mahal yang sering kita lupakan hari ini: demokrasi bukan soal menang-kalah ide, tetapi kesediaan hidup bersama dalam perbedaan.

Jika para pendiri bangsa saja tak sepakat sejak awal, lalu mengapa kita hari ini begitu takut pada perbedaan?

Mungkin, yang perlu kita rawat bukan keseragaman pandangan, melainkan kedewasaan bernegara—sebuah sikap yang dulu tumbuh di rumah kecil di Peneleh, namun kini terasa semakin langka.

Zatera — 30 Januari 2026