ZATERA.ID | GOWA — Pemerintah Kabupaten Gowa mulai mengarahkan pengembangan hortikultura tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan hilirisasi dan kesejahteraan petani.

Langkah ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Sinkronisasi Program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP) bersama Kementerian Pertanian RI yang digelar di Baruga Karaeng Galesong, Kantor Bupati Gowa, Rabu (22/4/2026).


Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menyebut Gowa memiliki fondasi kuat untuk menjadi salah satu sentra hortikultura nasional.

Potensi lahan yang mencapai 54.025 hektar dinilai menjadi modal besar, namun perlu dikelola secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Kalau ini dikelola dengan baik melalui pendekatan teknologi dan manajemen yang tepat, Gowa bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan daerah, tapi bisa menjadi pemasok utama secara nasional,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa tantangan utama sektor hortikultura bukan hanya pada produksi, melainkan pada persoalan klasik yang dihadapi petani, seperti keterbatasan benih unggul, fluktuasi harga saat panen, hingga minimnya sarana pendukung.

Karena itu, Pemkab Gowa mendorong agar program HDDAP tidak berhenti pada tahap budidaya, tetapi juga menyentuh aspek hilirisasi melalui pengembangan agroindustri.

“Kita ingin ada nilai tambah. Jangan hanya kirim bahan mentah. Harus ada produk olahan yang bisa meningkatkan pendapatan petani,” tegasnya.

Pemkab Gowa sendiri menetapkan tiga fokus utama dalam pengembangan hortikultura, yakni penguatan sektor hulu melalui penyediaan benih berkualitas dan teknologi, pengembangan sektor hilir melalui agroindustri, serta dukungan infrastruktur seperti jalan tani untuk menekan biaya distribusi.

Sementara itu, Direktur Budidaya Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian RI, Fauziah T. Ladjo, menjelaskan program HDDAP secara nasional menargetkan pengembangan 10.000 hektar kawasan hortikultura di lahan kering yang tersebar di tujuh provinsi.

“Di Sulawesi Selatan, program ini difokuskan di Kabupaten Gowa dan Enrekang dengan pendekatan kawasan berbasis desa dan integrasi dari hulu ke hilir,” jelasnya.

Program ini juga menekankan kemitraan antara petani dan sektor swasta serta pemanfaatan teknologi ramah lingkungan yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Di tingkat daerah, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa, Zubair Usman, menyebutkan pengembangan HDDAP di Gowa mencakup 540,3 hektar yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Tompobulu, Bontolempangan, dan Tombolopao.

Komoditas yang dikembangkan meliputi bawang merah seluas 434,9 hektar, cabai keriting 57,2 hektar, dan kentang 48,2 hektar, dengan melibatkan 10 desa dan 31 kelompok tani.

“Program ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus profitabilitas petani melalui penguatan infrastruktur, irigasi, rantai nilai, hingga akses permodalan dan pemasaran,” ungkapnya.

Melalui program ini, Pemkab Gowa berharap sektor hortikultura tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan, tetapi juga menjadi penggerak utama ekonomi daerah yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. (NH/*)