OTODA di Bone, Wabup Soroti Ketergantungan Daerah: Sinkronisasi Pusat Jadi Penentu
Redaksi
April 27, 2026 4:02 pm
Berita Terkait

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini


ZATERA.ID | BONE — Peringatan Hari Otonomi Daerah (OTODA) di Kabupaten Bone kembali mengangkat isu klasik: kuat di seremoni, namun masih menghadapi tantangan nyata di lapangan.
Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin, saat memimpin upacara di halaman Kantor Bupati Bone, Senin (27/4/2026), menegaskan bahwa keberhasilan otonomi daerah sangat bergantung pada sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.
“Tanpa koordinasi yang baik, tujuan pembangunan nasional tidak akan tercapai optimal,” ujarnya saat membacakan sambutan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa persoalan mendasar otonomi daerah belum sepenuhnya tuntas, terutama dalam hal perencanaan dan pelaksanaan program yang masih kerap tumpang tindih.
Tema “Dengan Otonomi Daerah Kita Wujudkan Asta Cita” dinilai bukan sekadar slogan, melainkan tuntutan agar daerah mampu mandiri sekaligus tetap selaras dengan arah pembangunan nasional.
Namun di balik itu, tantangan kemandirian fiskal masih membayangi. Banyak daerah, termasuk Bone, masih bergantung pada dana transfer pusat—yang berdampak pada terbatasnya ruang gerak dalam menjawab kebutuhan lokal secara cepat.
Selain itu, reformasi birokrasi juga menjadi sorotan. Pemerintah daerah didorong tidak lagi berfokus pada proses administratif, tetapi berorientasi pada hasil nyata melalui inovasi dan digitalisasi.
Isu kolaborasi antar daerah pun ikut disorot, terutama dalam menangani persoalan lintas wilayah seperti lingkungan, transportasi, hingga pengelolaan sampah yang tidak bisa diselesaikan secara parsial.
Di sisi pelayanan publik, pemerintah diingatkan untuk tidak kehilangan fokus. Layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, sanitasi, dan perlindungan sosial masih menjadi indikator utama keberhasilan otonomi daerah dalam menekan ketimpangan.
Tak hanya itu, tantangan global seperti krisis ekonomi, ketahanan pangan, hingga dampak perubahan iklim juga menuntut daerah lebih adaptif dan responsif dalam merumuskan kebijakan.
Momentum OTODA ini pun menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan otonomi bukan pada banyaknya program, tetapi pada sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan dampaknya.
Upacara tersebut turut dihadiri jajaran pejabat Pemkab Bone, mulai dari asisten, staf ahli, kepala OPD, hingga ASN lingkup pemerintah daerah. (*)


Tinggalkan Balasan