
Petikan Hikmah Ramadan (51)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
TAMU Agung yang bernama Ramadan telah berlalu. Ramadan meninggalkan jejak yang dalam di hati setiap mukmin. Ia datang membawa rahmat, ampunan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Selama sebulan, kita merasakan kedekatan yang lebih hangat dengan Allah Swt.,malam-malam yang hidup dengan doa, siang hari yang terjaga dari dosa, dan hati yang lebih peka terhadap sesama.
Namun kini, Ramadan telah pergi. Pertanyaan yang patut diajukan kepada diri kita masing-masing, apakah semangat itu ikut pergi, atau justru menjadi bekal untuk melanjutkan misi hidup kita?
Sejatinya, Ramadan bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal. Ia adalah madrasah yang mendidik kita agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
Allah Swt., menegaskan tujuan puasa dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Takwa inilah yang seharusnya kita bawa keluar dari Ramadan dan dijadikan sebagai bekal dalam menjalani sebelas bulan berikutnya.
Misi Hidup Tak Pernah Berhenti
Misi hidup seorang Muslim tidak pernah berhenti. Ia terus berjalan sepanjang hayat, meliputi ibadah kepada Allah dan kontribusi kepada sesama manusia.
Ramadan telah melatih kita untuk disiplin dalam ibadah, jujur dalam niat, serta peduli terhadap orang lain.
Semua itu bukan sekadar rutinitas musiman, melainkan fondasi untuk menjalankan misi besar sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.
Allah Swt., berfirman:
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh hidup kita adalah rangkaian pengabdian kepada Allah.
Rasulullah Saw., juga mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit (HR. Muslim).
Ini berarti bahwa setelah Ramadan, kita tidak dituntut untuk mempertahankan intensitas ibadah yang sama persis, tetapi menjaga kontinuitasnya.
Tilawah yang mungkin berkurang, tetap harus ada. Qiyamul lail yang mungkin tidak sepanjang Ramadan, tetap perlu dijaga. Sedekah yang mungkin tidak sebanyak sebelumnya, tetap harus mengalir.
Jika kita hanya rajin beribadah di bulan Ramadan, lalu kembali lalai setelahnya, maka seolah-olah kita hanya “mengenal” Allah di bulan itu saja.
Padahal, Allah adalah Rabb sepanjang waktu, bukan hanya Rabb di bulan Ramadan.
Karena itu, tanda diterimanya amal Ramadan adalah adanya perubahan yang berkelanjutan dalam diri kita setelah Ramadan berlalu.
Ramadan boleh pergi, tetapi misi hidup tidak pernah selesai. Kita masih memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki diri, membangun keluarga yang saleh, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Setiap hari adalah kesempatan baru untuk melanjutkan perjalanan menuju ridha Allah. Jangan biarkan semangat Ramadan menjadi kenangan yang memudar. Jadikan ia sebagai bahan bakar yang terus menggerakkan langkah kita.
Akhirnya, mari kita jaga “api” kebaikan yang telah dinyalakan selama Ramadan. Biarlah ia tetap menyala dalam ibadah kita, dalam pekerjaan kita, dan dalam interaksi kita dengan sesama.
Karena sejatinya, kehidupan seorang mukmin adalah perjalanan panjang menuju Allah, dan, Ramadan hanyalah salah satu perhentian yang menguatkan langkah kita di jalan tersebut. Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan