MAKASSAR — Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Darul Mukhlisin Beroanging, Kelurahan Suangga, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, resmi dikukuhkan pada Selasa, 20 Januari 2026. Prosesi pengukuhan diawali dengan dzikir dan doa bersama.

Pengukuhan pengurus DKM Darul Mukhlisin periode 2026–2028 dirangkaikan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Kegiatan tersebut turut dimeriahkan oleh tim salawat dari Majelis Taklim Masjid Ihyaul Jamaah Lembo.

Usai dikukuhkan, Ketua DKM Darul Mukhlisin Beroanging, Dr. KH. Masykur Yusuf, M.Ag, menyampaikan komitmennya untuk memajukan dan memakmurkan masjid selama masa khidmat kepengurusan.

“Masa khidmat dua tahun ini akan kami jadikan pembuktian bahwa masyarakat Beroanging mampu mengelola dan memakmurkan masjid dengan baik,” ujarnya.

KH. Masykur menambahkan, berbagai program keagamaan akan digulirkan, di antaranya pembentukan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Majelis Taklim, serta penguatan kegiatan keislaman lainnya.

“Kami berkomitmen menjadikan Masjid Darul Mukhlisin sebagai pusat pembinaan umat dan membawa Beroanging menjadi kampung beriman,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina DKM Darul Mukhlisin, Hj. Nismawati Malik, SE, menegaskan bahwa fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat salat lima waktu, tetapi juga sebagai pusat peradaban dan pembinaan umat.

“Komitmen kita bersama adalah menjadikan masjid ini sebagai sarana ibadah sekaligus pusat kegiatan keagamaan. Karena itu, dibutuhkan peran aktif pengurus dan jamaah untuk menjaga serta memakmurkan Masjid Darul Mukhlisin,” tuturnya.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Tallo, Ridwan, S.Pd, dalam sambutan dan tausiyahnya menyampaikan pentingnya menjaga salat sebagai tiang agama.

“Orang yang meninggalkan salat ibarat berjalan tanpa kepala. Isra Mi’raj terjadi atas perintah Allah SWT, Nabi Muhammad SAW diperjalankan bukan atas kehendaknya sendiri,” katanya.

Menurut Ridwan, peristiwa Isra Mi’raj menyimpan banyak pesan spiritual dan moral bagi umat Islam. Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa iman tidak selalu tunduk pada batas akal, melainkan pada keyakinan penuh kepada Allah SWT.

“Isra Mi’raj bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dihayati dengan menjaga salat, memperkuat iman, dan tetap teguh menghadapi berbagai ujian kehidupan,” pungkasnya.

Kalau mau, kawan, saya bisa:
Menyesuaikan gaya khas Zatera.id
Memendekkan versi rilis cepat
Atau menajamkan angle religius atau sosial