ZATERA.ID | GOWA — Proyek pengerjaan ruas Jalan Malino, tepatnya di depan Kampus Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, mendapat sorotan dari warga. Kritik tersebut berkaitan dengan kualitas pengerjaan jalan yang dinilai berpotensi tidak bertahan lama.

Warga menduga pengecoran jalan tidak menggunakan rangkaian besi sebagai tulangan, padahal ruas tersebut merupakan jalur utama yang setiap hari dilalui kendaraan berat.

“Jalan ini adalah jalur utama yang setiap hari dilewati truk 10 roda yang mengangkut material pasir atau timbunan, bahkan sering melebihi tonase. Kalau dicor tanpa tulang besi, pasti cepat rusak,” ujar Dg Ngawing, salah satu warga yang kerap melintas, kepada Zatera.id, Kamis (16/4/2026).


H. Rafiuddin

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD Sulawesi Selatan, H. Rafiuddin, menegaskan agar pihak kontraktor benar-benar menjaga kualitas pekerjaan, mengingat proyek tersebut menggunakan anggaran skema multiyears dan memiliki peran vital sebagai jalur distribusi material.

“Kita ingin jalan yang dibiayai dengan anggaran multiyears ini dikerjakan dengan baik supaya bisa bertahan lama,” kata politisi PPP yang juga warga Kabupaten Gowa itu saat ditemui di ruang Komisi B DPRD Sulsel.

Ia juga mendorong Komisi D DPRD Sulsel untuk segera turun ke lapangan guna mengecek langsung kondisi proyek yang menjadi sorotan masyarakat.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Sulsel, Luqman B. Kadi, menyatakan pihaknya akan memanggil kontraktor pelaksana proyek. Namun, ia mengharapkan adanya laporan resmi yang masuk ke komisinya sebagai dasar tindak lanjut.

“Sebaiknya ada surat masuk ke Komisi D supaya kami bisa segera panggil kontraktornya,” ujarnya singkat.

Zatera.id telah berupaya mengonfirmasi pihak Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Sulsel. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi karena pejabat terkait belum dapat ditemui.

Meski demikian, Kepala Seksi Preservasi Jalan BMBK Sulsel, Dani, menyampaikan bahwa kualitas beton telah melalui uji laboratorium sebelum pengecoran dilakukan.

Ia juga menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari pekerjaan Tahap 1, yang dimulai dari depan Kampus Teknik Unhas sebagai strategi untuk menghindari kemacetan, bukan dari ujung Jalan Malino.

“Ini strategi saja untuk menghindari kemacetan,” jelasnya.


Berdasarkan pantauan Tim Zatera.id di lokasi, tidak terlihat adanya penggunaan besi tulangan pada pengerjaan jalan beton tersebut. Selain itu, pada bagian bawah struktur beton tampak adanya celah yang berpotensi menjadi jalur masuk air, yang dikhawatirkan dapat memengaruhi daya tahan konstruksi dalam jangka panjang. (Aril)