Sepekan berada di Jakarta bukan sekadar perjalanan dinas biasa bagi Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman.

Di balik agenda padat menyusuri berbagai kementerian, terselip kisah sederhana: menginap di mess pemerintah daerah dan beraktivitas menggunakan sedan tua.

Kesederhanaan itu berbanding lurus dengan hasil yang dibawa pulang. Dari Jakarta, Andi Asman Sulaiman berhasil “menjemput” anggaran hingga ratusan miliar rupiah untuk berbagai sektor pembangunan di Kabupaten Bone.

“Alhamdulillah, selama kurang lebih sepekan di Jakarta, kami bisa menjemput anggaran hingga ratusan miliar rupiah,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Selama berada di Jakarta, Bupati yang akrab disapa AAS itu aktif menjalin komunikasi lintas kementerian dan lembaga.

Ia menyusuri berbagai pintu birokrasi, mulai dari sektor pertanian, pangan, hingga infrastruktur, demi memastikan program pembangunan daerahnya mendapat dukungan dari pemerintah pusat.

Hasilnya tidak kecil. Sejumlah program strategis berhasil diamankan, mulai dari pembangunan gudang, penguatan sektor kebandaraan, bantuan untuk pabrik pengolahan padi, hingga dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Selain itu, bantuan bibit dan benih, penguatan sektor pendidikan, serta kendaraan operasional dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga turut diperoleh.

Salah satu capaian penting adalah rencana peningkatan fasilitas Bandara Arung Palakka.

Pengembangan bandara ini diharapkan membuka akses konektivitas yang lebih luas bagi Kabupaten Bone, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Di sektor ketahanan pangan, Bone juga mendapatkan hibah dari Perum Bulog berupa satu unit kendaraan laboratorium serta pembangunan dua unit gudang.

Sementara dari Kementerian Pertanian RI, bantuan berupa pompa besar dan penguatan jaringan irigasi disiapkan untuk menghadapi potensi musim kemarau 2026.

Bagi Bupati Bone, capaian tersebut bukan sekadar angka anggaran, melainkan wujud ikhtiar menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.

Ia memilih pendekatan langsung: datang, berdialog, dan meyakinkan pemerintah pusat bahwa Bone membutuhkan dukungan nyata untuk terus berkembang.

Di tengah dinamika birokrasi pusat yang kerap kompleks, langkah itu tentu tidak mudah. Namun AAS menunjukkan bahwa lobi yang dilakukan secara intens dan konsisten dapat membuahkan hasil signifikan.

Cerita tentang sedan tua dan mess pemda yang menjadi tempat singgah selama di Jakarta menjadi simbol pendekatan yang ia pilih—bekerja dalam kesederhanaan, namun berorientasi pada hasil besar.

Anggaran tersebut diharapkan segera terealisasi dan memberi dampak langsung bagi masyarakat, mulai dari peningkatan produktivitas pertanian, penguatan ketahanan pangan, hingga terbukanya akses ekonomi yang lebih luas di Kabupaten Bone.

Sepekan di Jakarta pun menjadi lebih dari sekadar perjalanan dinas, melainkan sebuah ikhtiar panjang menjemput peluang demi pembangunan daerah yang lebih maju. (*)