By. Rahmat Mustafa

KATA Mark Twain, “History doesn’t repeat itself, but it often rhymes”.

Begitu juga dengan peristiwa Panama 3 Januari 1990 dan Venezuela 3 Januari 2026.

Ya, sejarah tidak pernah berulang, tapi sering kali berima.

Antara Panama dan Venezuela bukanlah salinan satu sama lain, namun berima.

Keduanya harmoni dalam nada kriminalisasi politik, dalam cara kekuasaan global bekerja, dan dalam dilema hukum internasional yang terus menggantung.

Di Panama, invasi militer negeri Paman Sam berakhir dengan penangkapan Manuel Noriega, penguasa de facto negeri Kopi Geisha itu.

Sejarah Amerika Latin mencatatnya sebagai pemimpin yang jatuh lewat operasi militer asing. Tuntas.

Tahun ini, dunia kembali terkejut. Presiden Venezuela Nicolas Maduro tertangkap oleh pasukan khusus AS. Tamat.

Timbul pertanyaan, apakah serangan tersebut melanggar Piagam PBB (UN Charter) yang melarang agresi terhadap kedaulatan negara lain?

Bingung jawabnya, karena aktornya negara yang katanya panutan demokrasi.

Mungkin mendiang Eleanor Roosevelt, Ketua Komisi HAM PBB sedih melihat pongah negerinya!

Hebat dan elegan caranya. Noriega dan Maduro dikemas dalam narasi serupa. Mereka diperlakukan sebagai tersangka kejahatan internasional.

Kasus Panama, Noriega diposisikan sebagai penguasa ilegal dan terlibat perdagangan narkotika.

Status β€œkepala negara” dikaburkan dulu, sehingga penangkapannya sebagai penegakan hukum, bukan penyerangan terhadap kedaulatan negara.

Pola yang sama dalam kasus Venezuela. Tuduhan pidana mendahului delegitimasi politik.

Ketika seorang pemimpin tidak lagi diakui sebagai representasi sah negaranya, maka imunitas politik perlahan dilucuti, dan ruang intervensi pun terbuka.

Tahun 1990 Panama adalah negara kecil dengan posisi strategis namun bobot geopolitik terbatas.

Dunia saat itu relatif unipolar. AS berada di puncak kekuasaan global, dan ruang perlawanan internasional nyaris tidak ada.

Tahun 2026 Venezuela berbeda. Dunia saat ini multipolar. AS tidak sendirian, ada Rusia dan Tiongkok.

Venezuela memiliki cadangan minyak besar dunia, hubungan erat dengan kekuatan non-Barat, dan simbol perlawanan terhadap dominasi Amerika di Amerika Latin.

Tindakan terhadap Venezuela tentu saja mengentak dunia, hingga impaknya bisa memicu eskalasi lebih besar. Perang dunia? Semoga saja tidak!

Sejarah memang jarang mengulang secara persis. Hanya mengganti nama, latar, dan istilah hukum yang digunakan.

Dulu Operation Just Cause, kini diberi nama yang terdengar sama mulianya, Operation Absolute Resolve. Dulu seorang jenderal, sekarang presiden.

Tuduhannya tetap serupa, prosedurnya tampak lebih rapi, dan legitimasi moralnya selalu datang belakangan.

Paradoks. Kedaulatan negara dijunjung tinggi dalam pidato, dibuang jauh dalam praktik. Hukum internasional diagungkan dalam forum, dihinakan di lapangan.

Ironinya bukan pada tanggal atau tuduhan yang berulang, melainkan pada ingatan dunia yang sengaja dipendekkan.

Panama diletakkan sebagai masa lalu, Venezuela diperlakukan sebagai peristiwa baru, seolah pola tidak pernah ada.

Dunia pun kembali berjalan seperti biasa. Mengutuk seperlunya, membenarkan secukupnya.

Lalu, sekali lagi, memilih lupa!

π™¨π™šπ™ π™žπ™–π™£π™‚**