
Oleh : Pen Palallo
Senin pagi itu (11/05/26), halaman Gedung DPRD Gowa lebih mirip daerah konflik kecil daripada rumah rakyat.
Mobil aparat berjejer panjang…
Pak polisi berdiri rapat dengan muka tegang…
Om Brimob lengkap dengan tameng dan perlengkapannya, mondar-mandir di halaman gedung.
Radius 300 meter dari lokasi bahkan sudah ada pemberitahuan “antisipasi” bentrokan. Toko-toko dan perbankan diminta waspada.
Saya sempat berpikir; jangan-jangan ada pilkada lagi.
Padahal yang berlangsung hanyalah RDP.
Rapat Dengar Pendapat.
“Hanya” forum dengar pendapat.
Tapi aroma yg tercium justru seperti ruang sidang politik.
Beberapa hari ini sebelumnya, kabar tentang RDP itu memang sudah beredar ke mana-mana.
Grup WA ramai.
Warkop penuh bisik-bisik.
Lorong Sungguminasa mendadak jadi ruang analisa politik dadakan. Colek Om Taba (Pagandeng Juku)
Publik dibuat penasaran.
Katanya akan ada pembukaan tabir besar…
Tentang beasiswa diputus…
Tentang seragam sekolah yang disebut-sebut “dikorupsi”…
Sampai video asusila yg diduga menyeret nama sang Bupati.
Sebagian masyarakat datang membawa rasa ingin tahu…
Sebagian membawa kemarahan…
Sebagian lagi datang membawa dukungan.
Sisanya?
Hanya ingin menonton drama yang telanjur dipentaskan di ruang publik.
HermangSa…
(Herang Memang Tonga’ Saya)
Dalam gedung dewan, RDP justru dinyatakan tertutup bagi pewarta.
Wartawan tidak leluasa masuk.
Alasannya demi ANU dan ketertiban forum.
Tapi anehnya, kamera besar justru bebas berdiri di tengah peserta rapat. Bahkan ada siaran langsung.
Saya tidsk paham logika model beginian.
HermangSa ma’ seng…
Kalau tertutup, tutupmi sekalian.!!
Kalau terbuka, takkala buka saja semuanya.!!
Jangan media dihalangi, tapi kamera tertentu malah diberi jalan mulus seperti tamu kehormatan… Colek Om Kapolres
Di luar ruang rapat, suasana lebih padat lagi.
Parkiran gedung dewan sesak oleh aparat gabungan dan massa ormas.
Mereka berdiri dlm posisi siaga. Seolah tinggal menunggu aba-aba kecil untuk meledak.
Dan benar saja.
Di tengah RDP berlangsung, muncul kelompok lain yang katanya pro terhadap pemerintahan Bupati.
Ketegangan pecah.
Suara sobekan spaduk mulai terdengar.
Pembubaran massa Demo pun terjadi.
Menarik, bukan aparat yg paling depan membubarkan.
Tapi ormas…, HerManG maki seng toh!?
Di titik itu saya juga mulai bertanya dalam hati; sejak kapan pembubaran paksa dianggap hal biasa?
Dan mengapa keberanian seperti itu baru muncul sekarang,
Yang biking HerMangSa; terang-terangan di depan publik?
Pertanyaan itu belum juga terjawab _Om Opha_ sampai hari ini.
Mungkin memang butuh kopi hitam lebih pahit agar kepala bisa melihat persoalan ini lebih jernih.
Kembali ke isi RDP.
Persoalan beasiswa kembali dibuka. Padahal sebagian sudah berjalan di ranah hukum.
Begitu juga soal seragam sekolah. Kalau memang ada kerugian negara atau pelanggaran, bukankah audit mestinya jadi dasar utama?
Bukan sekadar teriakan forum atau potongan narasi di media sosial.
Lalu masuk ke bagian paling sensitif; video asusila ysng diduga milik sang Bupati.
Forum bahkan memberi waktu 3 hari kepada Bupati tuk melakukan klarifikasi.
Dan di sinilah pertanyaan paling besar muncul.
Apakah video itu benar-benar ada?
Apakah video tersebut sdah berada di tangan pimpinan sidang forum?
Kalau memang ada, apakah sudah diverifikasi keasliannya?
Atau jangan-jangan semua orang hanya sedang mengejar bayangan?
Sebab kalau video itu sendiri belum jelas bentuk dan validitasnya, mengapa klarifikasi dipaksa lahir sebelum pembuktian selesai?
HerMangSa… Negeri ini memang kadang terlalu cepat mengadili lewat desas-desus atau sekedar katanya.
Padahal fitnah dan fakta hanya dibedakan oleh satu hal kecil; pembuktian.
Menyimak semua itu, kita (setuju’) akhirnya sampai pada kesimpulan sederhana.
Ini bukan lagi sekadar RDP.
Ini panggung politik.
Publik diajak menonton sesuatu yang belum tentu utuh kebenarannya.
Emosi masyarakat dipancing…
Energi aparat dikuras…
Fasilitas negara dipakai menjaga kegaduhan yang belum tentu menghasilkan kejelasan.
Dan rakyat?
Tetap pulang membawa “Katanya”
Apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan, Pak Dewan?
Kebenaran?
Atau sekadar momentum politik yg dibungkus kemarahan publik?
Sessajaki!!
Seberang jalan Gedung DPRD Gowa, 11/05 2026




Tinggalkan Balasan